Kamis, 23 Juni 2022

Nilai kegratisan

 



Seorang sahabat yg tinggal di Australia bercerita ttg pengalamannya, “Suatu sore, sesudah menikmati secangkir capucino di Gloria Jeans CafĂ© yg capucino-nya paling enak (menurut saya), kami mampir ke toko roti. Membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko roti, utk dipotongkan, shg nanti di rumah gampang, tinggal comot dan makan.

Selesai dipotong dan dibungkus rapi, lalu diserahkan kpd saya. Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar. Tapi ditolak dgn senyum manis, sambil berucap, “It’s free nothing to pay.” “Are you sure?” kata saya.
Gadis remaja yg tugas jualan disana, menjelaskan, bhw kalau sdh ditutup, roti tdk boleh lagi dijual. Boleh diberikan kpd siapa yg mau atau diantarkan ke Second Hand shop utk org yg membutuhkan.
Agak tercengang juga saya dengar penjelasannya. Terbayang, kalau di Indonesia, wah bisa bangkrut bisnis ini, karena org bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis.
Belum selesai ngobrol dengan si mbak, tiba-tiba ada suami istri, yang juga mau belanja roti. Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami. Kelihatan si pria adalah orang Australia, sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia. Si wanita juga minta roti di mbak, tapi dicegah oleh suaminya, sambil berkata,
“No darling, please. We have enough money to buy. Why do we have to pick up a free one? Let’s another people who need it more than us take it“
Wah… wah, merasa tersindir wajah saya panas… Egoisme saya melonjak ke permukaan, merasa tersindir dgn perkataannya. Dalam hati saya bergumam, “Hmm saya ini dulu pengusaha tau”.
Tapi, syukur cepat sadar diri, gak sampai terucapkan. Karena orang yang bicara suami ke istrinya, masa iya saya tiba-tiba nyelak ditengah tengah?
Hampir saja saya berbuat kesalahan. Karena toh mereka tidak omongin saya, Kalau saya merasa tersindir, itu salah saya sendiri.
Hingga menjelang tidur, kata-kata si Suami kepada istrinya msh terngiang-ngiang rasanya,
“We have enough money to buy … why do we have to pick up a free one.”
Setelah saya renungkan, saya merasakan bahwa kata2 ini benar. Kalau semua orang yang punya duit, ikut antri dan dapatkan roti gratis, yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop utk di-bagi-bagi kan secara gratis, berarti orang yang sungguh2 membutuhkan tidak bakalan kebagian lagi roti gratis.
Walaupun saya sesungguhnya mau membayar, namun si mbak yang nggak mau terima uang saya. Pelajaran hidup ini tidak mungkin akan saya lupakan.
Kalau kita sanggup beli, jangan ambil yang gratis. Biarlah org lain yang lebih membutuhkan mendapatkannya.
Sungguh sebuah kepedulian akan sesama yang diterapkan dgn kesungguhan hati.
Kini saya baru tahu, kenapa kalau di club ada kopi gratis, tapi jarang ada yg ambil, mereka lbh suka membeli. Bukan karena gengsi2an, tetapi terlebih karena rasa peduli mrk pada orang lain, yang mungkin lebih membutuhkan.
Pelajaran yang sungguh2 memberikan inspirasi bagi diri saya.
Tuhan sudah memberikan berkah yang cukup untuk kita, tidak perlu lagi kita mengambil bagian berkah yang diperuntukkan bagi orang lain.
Ketika kita mendengar ada program pemerintah utk membantu org miskin, apa yang ada dalam benak kita?
Apa kita akan ikut bersiasat agar mendapat bagian? Ataukah kita merekayasa data agar kerabat dan saudara kitat dapat bagian juga?
Atau kita sok jadi pahlawan denan mengajukan diri sebagai pendamping program, tapi dalam pikiran kita tersimpan niat busuk untuk memperkaya diri sendiri?
Sahabat, kemiskinan bukan untuk dipolitisir dan dieksploitasi. Orang miskin dan kemiskinan adalah ladang amal. Keberadaan orang miskin adalah cara Tuhan untuk menguji sejauh mana kepedulian dan keimanan kita. “Jangan mengaku beriman jika tetangga kanan kirinya msaih ada yg kelaparan”.
Sementara kemiskinan adalah mental yg mesti dirubah dan diberantas. Mental minta2, mental gratisan, mental pemalas, mental potong kompas, termasuk mental jualan data orang miskin, semua itu adalah Mental Pengemis yg membuat bangsa ini rendah dan terhina, itulah kemiskinan kultural.
“Sudah saatnya kita bangkit dan sadar, tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Menjaga harga diri lebih baik dari pada menjatuhkan kehormatan hanya demi sesuap nasi.”
“Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”
Sehat, Bahagia, Damai, Makmur, Panjang Umur untuk Anda semua.

BACA JUGA :

Sabtu, 11 Juni 2022

Resep Rendang Babi yang Gurih, Gak Kalah Nikmat Dibanding Daging Sapi



 1. Bahan-bahan yang diperlukan

Bahan-bahan:
500 gram daging babi
350 gram santan encer
150 gram santan kental
1/2 bungkus bumbu rendang
1/2 lembar daun kunyit
3 lembar daun jeruk
3 lembar daun salam
penyedap rasa secukupnya
garam secukupnya
Bahan bumbu halus:
50 gram cabai merah
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
3 cm lengkuas
2 cm jahe
2 cm kunyit
1 batang serai yang diambil bagian putihnya
2. Tumis bumbu halus
Masukkan semua bahan bumbu halus ke dalam blender, haluskan. Siapkan wajan yang telah diisi minyak, kemudian tumis bumbu halus sampai mengeluarkan aroma harum.
Tambahkan daun kunyit, salam, jeruk, dan bumbu rendang ke dalamnya. Aduk kembali.
3. Campurkan bumbu halus dengan daging babi
Tambahkan daging babi yang telah dipotong-potong ke dalam tumisan bumbu halus. Biarkan sampai daging sedikit berubah warna.
Tuang santan cair ke dalamnya, aduk sampai merata. Masak sampai daging babi berubah menjadi empuk.
4. Masak sampai bumbu meresap
Saat daging babi telah menjadi empuk, masukkan garam, penyedap rasa, beserta santan kental ke dalamnya. Aduk terus-menerus sampai bumbunya meresap pada daging. Angkat dan sajikan bersama nasi hangat!
Kreasi rendang babi yang gurih ini bisa kamu jadikan makan malam bersama keluarga, nih!
NB: Non Halal

BANGSA PUALING RELIGIUSSSS


Inilah kita masyarakat paling religius, ciri agamanya bukan di akhlak, kemajuan berpikir, atau perdamaian, tapi di simbol-simbol "rendahan" semacam makanan, aksara hingga produk konveksi. Jadi teringat 2018 lalu Komika Coki Pardede & Tretan Muslim menuai protes masal dan dituduh menista agama karena masak daging babi pake saos kurma. 

Ya beginilah gambaran warga "religius" negeri ini, dimana kurma pun menjadi simbol agama, menyenggolnya berarti menista agama. Mereka tidak tahu kalau jauh sebelum Rasulullah SAW lahir, di era Mesir Kuno pelepah kurma sudah digunakan sebagai tikar untuk menutup mumi Fir'aun. Dan kurma adalah makanan sehari-hari masyarakat Mesopotamia kuno sejak 6000 SM yang belum mengenal Islam bahkan masih menyembah dewa-dewa Pagan. Tidak usah jauh-jauh, Abu Lahab dan Abu Jahal mungkin jauh lebih sering makan kurma dari kamu-kamu yang sedikit-sedikit makan kurma agar terlihat "nyunnah".

Agnes Monica pada 2016 lalu juga dituduh "menista Islam" karena menggunakan kostum konser yang bertuliskan kata dalam huruf Arab "Al Muttahidah" yang artinya "Persatuan", kata yang sebenarnya tidak identik dengan agama tertentu bahkan tidak mencederai agama apapun. Tapi karena menggunakan aksara Arab dan menempel di tubuh seorang Agnes yang non-muslim dan umbar aurat maka itu otomatis menjadi "penistaan agama". 
Bahkan aksara pun disini memiliki agama..

Tidak usah tanya ke saya memangnya orang Kristen, Yahudi, Pagan bahkan Atheis di Timur Tengah sana pakai huruf apa? Mungkin mulai sekarang mereka harus membuat bahasa & aksara sendiri karena huruf Arab sudah beragama.

Ahh jangankan buah, aksara dan kostum, bahkan lemari es di negeri ini pun berlabel Halal MUI, tapi ya sudahlah saya tak tega membahasnya.

Jadi soal Babiambo masakan Padang dengan variasi daging Babi yang sekarang sedang diperkarakan dengan tuduhan "menista agama" padahal jelas tertulis "Non-Halal" di label restorannya, ya saya cuma mau bilang silakan saja lah.. namanya juga masyarakat paling religi. Buah, abjad sampai kain pun disini punya agama. Siapa suruh babi nyemplung ke bumbu rendang? Pasti babi yang tersesat.

Rabu, 01 Juni 2022

Ketika lulusan SD berhasil menipu Indonesia

 

Kisah penipuan kelas kakap yang menggemparkan masyarakat Indonesia bahkan dunia ini terjadi di era kekuasaan Soeharto, tepatnya di tahun 70-an. Meskipun tak tamat SD, ia nyatanya memiliki ide jenius yang mampu membodohi orang se-Indonesia, termasuk kaum elit pemerintahan dan ulama.

Cut Zahara Fona, wanita asal Aceh yang mengklaim bahwa dirinya mengandung janin ajaib karena bisa berbicara dan mengaji.
Masyarakat yang penasaran pun berbondong-bondong mendatangi Cut Zahara Fona untuk menyaksikan fenomena ajaib itu. Mereka rela antre demi bisa menempelkan kuping di perut si Ibu dan mendengar langsung janinnya berbicara ( berbayar tentunya).
Kabar aneh ini dengan cepat menyebar ke penjuru negeri hingga sampai ke telinga para tokoh agama dan elit pemerintahan.
Sejumlah ulama yang dimintai pendapat tentang keanehan tersebut memberikan pendapat yang cenderung membenarkan berita aneh tersebut. Ulama berpendapat, janin dalam perut bisa mengaji merupakan bukti kekuasaan Tuhan.
Kun fayakun, bila Tuhan menghendaki apa pun bisa terjadi. Begitu tanggapan para ulama.
Buya Hamka, pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga memberi pendapat serupa. Padahal Buya sebenarnya meragukan ada janin dalam perut bisa mengaji. Buya Hamka sebenarnya tidak percaya. Dia hanya memberi reaksi saat ditanya wartawan dengan menyatakan kalau Tuhan menghendaki memang bisa terjadi.
Hebatnya, kasus janin bisa ngaji itu sampai dipercayai oleh Wakil Presiden Adam Malik. Adam Malik diyakinkan adiknya jika janin yang bisa mengaji itu memang benar adanya. Wakil Presiden era Soeharto ini lantas mengundang Cut Zahara Fona agar datang ke Istana.
Pertemuan Cut Zahara dengan Wakil Presiden Adam Malik dimuat dalam Surat Kabar Pos Kota juga Harian Merdeka ditahun 1970-an.
Janin yang bisa mengaji tidak hanya menggegerkan Indonesia, fenomena ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman Putra waktu itu.
Serupa dengan Adam Malik, PM Malaysia itu juga percaya janin dalam perut bisa mengaji itu benar adanya. Semua bisa saja terjadi jika Tuhan menghendaki. Bukti yang paling nyata adalah Perawan Maria yang bisa melahirkan bayi Isa.
Begitu anggapan yang berkembang kala itu yang umumnya merujuk kasus Cut Zahara dengan mukjizat Perawan Maria.
Maka saat itu mayoritas masyarakat Indonesia percaya janin di perut Cut Zahara memang benar-benar bisa mengaji. Masyarakat juga tidak sadar dan tidak pernah mempertanyakan umur janin di perut Cut Zahara yang bisa lebih dari satu tahun.
Untunglah kemudian ada Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo yang bersuara berbeda. Dr Herman menyatakan, janin bisa mengaji merupakan hal yang tidak mungkin. Sebab bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal sehingga tidak akan dapat mengeluarkan suara.
Karena melawan arus, Dr Herman diancam akan dibunuh oleh orang-orang fanatik yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji. Menghindari ancaman itu dokter Herman lantas bersembunyi. Dokter Herman yang tinggal di Ciganjur ini meninggal dunia pada tahun 1998. Tapi belakangan terbukti dokter Herman Susilolah yang benar.
Bayi ajaib yang bisa membaca Al Quran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong alias dusta belaka.
Kebohongan Cut Zahara berakhir di Banjarmasin saat Kapolda memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penggeledahan.
Kapolres Banjarmasin pun berhasil meringkus Cut Zahara usai dirinya pura-pura datang dengan dalih ingin mendengarkan suara si janin bersama istrinya dan beberapa Polwan. Dengan taktik yang jitu, ia dan tim kemudian menyingkap kain Cut Zahara dan ditemukanlah tape recorder.
Setelah kedoknya terbuka, Cut Zahara pun dipenjara. Ia sempat kabur, tapi berhasil ditangkap kembali
Tak heran jika akhirnya Cut Zahara Fona dijuluki penipu kelas kakap yang berhasil masuk istana hingga Wapres Adam Malik pun menjadi korbannya.
Peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam mengungkapkan, tahun 1970-an teknologi tape recorder masih menjadi barang baru di Indonesia. Kala itu tape recorder kecil yang biasa dipakai wartawan memang belum dikenal oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak menaruh curiga pada aksi yang dilakukan Cut Zahara.
Selain itu, masyarakat pada waktu itu masih sangat "religius" (dalam artian berbeda, percaya pada hal-hal tak masuk akal) sehingga gampang percaya hal-hal yang aneh dan ajaib merupakan kehendak Tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya.
Dalang dari peristiwa diatas dua orang. Cut Zahara Fona dan Suaminya. Dua-duanya masuk penjara, hanya saja yang mendapat perhatian lebih adalah sosok si Cut Zahara. Tidak dijelaskan darimana Cut Zahara dan Suaminya mendapat tape recorder.
Judul yang diberikan lulusan SD tidak mengacu bahwa si Cut Zahara ini tidak pintar. Justru karena dia cerdik, dia mampu mengelabuhi para petinggi yang notabenenya berpendidikan tinggi.
Sumber ;
Sejarahwan UI Anhar Gonggong - Dirjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melalui detik.com
~ Anton Dwisono Hanung Nugrahanto ~

Kamis, 08 April 2021

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia

 1. Peri Cottingley



Hoax ini dimulai ketika dua saudara sepupu bernama Elsie Wright, dan Frances Griffith, yang saat itu berusia 16 tahun dan 9 tahun, mereka tinggal di Cottingley provinsi Yorkshire. Ceritanya mereka mau membuktikan kepada ibu mereka bahwa mereka melihat peri. Ayah Wright, seorang fotografer amatir, meminjamkan mereka kameranya supaya mereka bisa membuktikannya. Sisanya bisa ditebak sendiri.

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?


Bahkan saking percayanya , foto dan kamera yang dipakai sekarang dipajang pada National Science and Media Museum dekat Bradford bahkan mampu menarik perhatian media dan spiritualis tersohor seperti penulis Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle.
Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?
Pada 1920, Conan Doyle menggunakan foto-foto tersebut untuk mengilustrasikan artikel yang dia tulis soal keberadaan peri. Seorang cenayang juga mengunjungi rumah keluarga tersebut di Cottingley, mengklaim dia melihat peri di mana-mana. Wow hoax yang sudah masif terstruktur ya gan.

Bagi kita diera sekarang mungkin, foto-foto tersebut jelas tampak palsu—potongan gambar-gambar dari sebuah buku dan ditempel ulang pada kardus dan, sebagaimana diakui Griffiths kemudian, dihias oleh tusuk konde. Bahkan ekspresi perempuan-perempuan itu, yang datar saja saat memandang ke kamera, tampak begitu ‘diatur’. Jadi mengapa ada begitu banyak orang yang percaya? orang make up ratna saja bisa banyak yang percaya kok, 


Fotografi spiritualis telah populer sejak 1870-an, di mana eksposur ganda digunakan untuk membuktikan keberadaan “penampakan,” “Orang-orang memandang foto-foto fenomena paranormal ini cukup sering selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,” ujar Belknap. “Yang membuat foto-foto Cottingley berbeda adalah hal tersebut merupakan manipulasi adegan, tapi bukan manipulasi pada rol filmnya.”

Pemilihan waktu foto-foto tersebut, yang menjadi perhatian publik satu tahun setelah berakhirnya PD I, juga merupakan faktor penting. “Pada masa-masa perang atau di saat tingkat kematian tinggi, spiritualisme dan keyakinan-keyakinan yang kurang terang mudah dikapitalisasi,” imbuh Belknap.

2. Monster Loch Ness

Monster dari Danau Loch Ness mungkin adalah tipuan atau hoax yang paling populer di dunia perhewanian gan. Koran sekelas Daily Mail menerbitkan artikel pertama tentang hewan mistis tersebut yang foto-fotonya diambil oleh Dr. Wilson, seorang ahli bedah dari London, Inggris. Foto tersebut mengejutkan seluruh dunia akan kemunculan hewan purba tersebut gan.

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?


. Tetapi pada tahun 1994, foto tersebut dinyatakan sebagai palsu.Orang-orang yang meragukan adanya nessie, antara lain, Alastair Boyd dan temannya David Martin. Martin berhasil menemukan bukti bahwa foto Wilson sesungguhnya hanya lelucon saja. Setelah diselidiki, foto itu ternyata dibuat oleh Duke Wetherell dan putranya Ian. Nessie yang mereka foto pun palsu. Monster itu dibuat oleh putra tiri Duke yang bernama Spurling.

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?


Foto nessie palsu itu diserahkan Duke pada temannya, Chambers. Duke meminta Chambers membujuk Dr. Wilson agar menjualnya ke koran Daily Mail atas nama Dr. Wilson. TUjuan pembuatan hoax nessie itu adalah untuk membalas dendam pada koran Daily Mail. yang pernah menulis berita yang membuatnya malu.

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?


Pada tahun 1994, Martin berhasil menemui Spurling. Martin mengorek keterangan dan mendengar pengakuan Spurling tentang foto itu. Saat ditemui Martin, Spurling sudah berumur 93 tahun dan dia merasa bersalah telah membohongi banyak orang.

3. Kepunahan Manusia Berambut Pirang.

Pada tahun 2002, Media massa sekelas BBC menyebutkan manusia berambut pirang kemungkinan akan punah dalam waktu dua ratus tahun lagi dalam artikelnya hal itu disebabkan karena setiap tahun jumlah kelahiran manusia berambut pirang semakin berkurang bila dibanding dengan tingkat kematiannya. Artikel itu .weeew ngeri ye gan. Kasak kusuk ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1860-an gan ternyata, namun saat itu tidak terdokumentasikan.

Beberapa Hoax yang sempat menipu dunia ? manusia rambut pirang akan punah?


The New York Times kemudian menerbitkan artikel lain yang mengatakan hasil penelitian tersebut sebagai palsu. Namun, hoax tentang kepunahan manusia berambut pirang terus berkibar sampai sekarang di beberapa forum.

Rabu, 07 April 2021

Jika kamu tak punya iman dalam keyakinanmu, maka saat itulah kamu takut akan ilmu pengetahuan




 Dalam konferensi "Black Hole, Gravitational Waves, dan Space-Time Singularities" yang berlangsung pada 9-12 Mei di Vatikan, Consolmagno mengungkapkan, seorang religius tidak perlu takut akan sains.


"Jika kamu tak punya iman dalam keyakinanmu, maka saat itulah kamu takut akan ilmu pengetahuan," katanya seperti dikutip Catholic News Agency, Rabu (10/5/2017).

Consolmagno mengungkapkan, Tuhan, alam semesta, dan tujuan eksistensi manusia bisa ditemukan lewat proses, bukan secara instan.

"Ada banyak hal yang kita tahu tetapi belum kita pahami. Kita tidak dapat menjadi seorang religius atau ilmuwan yang baik jika berpikir pekerjaan kita sudah selesai," imbuhnya.

Konferensi tersebut menghadirkan sejumlah rohaniwan serta ilmuwan terkemuka, termasuk mereka yang meneliti Big Bang dan bahkan yang tidak memercayai adanya Tuhan. Consolmagno punya pandangan berbeda. Tuhan tidak bisa langsung ditempatkan pada saat Big Bang tetapi bukan berarti Tuhan tidak ada.

"Penciptaan bukan sesuatu yang berlangsung 13,8 miliar tahun lalu. Tuhan sudah ada di alam sebelum ruang dan waktu ada. Anda tak bisa mengatakan "sebelum" sebab Tuhan berada di luar ruang dan waktu," katanya.

Penciptaan berlangsung secara terus menerus. Para religius harus percaya bahwa Tuhan maha kuasa sehingga bisa memahaminya sebagai yang bertanggung jawab pada penciptaan alam semesta. Gabriele Gionti, S.J. sebagai pimpinan penyelenggara konferensi mengungkapkan, istilah "awal mula" alam semesta berbeda dengan "asal-usul".

"Awal mula alam semesta adalah pertanyaan ilmiah, bisa diprediksi secara tepat kapan bermula. Namun asal usul alam semesta adalah pertanyaan teologis," jelasnya.

"Seorang ateis bisa mengasumsikan yang berbeda, punya pandangan berbeda dengan alam semesta. Namun kita bisa berbicara dan belajar satu sama lain. Pencapaian kebenaran menyatukan kita," imbuhnya.

Sejarah membuktikan, gereja dan banyak lembaga agama lainnya membantu kegiatan ilmiah. Oxford University sebagai universitas terbaik di dunia misalnya, didirikan oleh seorang agamawan.

Sumber: National Geographic Indonesia

Senin, 05 April 2021

Kantor Syam Organizer Digeledah Densus


Menurut berita CNN Indonesia tadi pagi (5/4),Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah kantor Syam Organizer yang berlokasi di RT 30 RW 08, Kumendaman, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY, Minggu (4/4).

Di berita tersebut tidak disebutkan alasan penggeledahan, jadi saya pun tidak tahu.

Yang saya tahu pasti, Syam Organizer ini sejak dulu memang mengepul donasi untuk Suriah dengan narasi: “pembantaian brutal yang dilakukan Rezim Nushairiyah Bashar Assad pada kalangan rakyatnya yang mayoritas Sunni.”

Saya tadi kepoin IG-nya, masih ada jejak digital pernah mengirim bantuan ke Ghouta timur. Padahal wilayah itu dulu dikuasai oleh Jabhah Fateh Al Syam (afiliasi Al Qaida). 

Indopress.id pernah melakukan jurnalisme investigasi, jalur apa yang dipakai para pengepul donasi ini kok bisa masuk Ghouta, sebuah kawasan dekat Damaskus. Baca di sini [1], ini satu-satunya wartawan/web yang pernah membuat reportase sekritis ini, sementara media-media nasional malah sibuk memberitakan hal-hal negatif soal Assad (yang dampaknya, semakin memberikan bahan bakar kepada radikalis). 

Pada kemana wartawan senior di Indonesia ya? Apa pada ga bisa mikir kritis gitu, mereka?

Nah di foto ini, skrinsyut IG Syam Organizer, menggalang dana untuk bikin sumur di kamp Atmeh (Idlib). Sedikit googling, ketemu deh, ini kamp dikontrol olehh Free Syrian Army. [2] Jadi sebenarnya sangat mungkin ini kamp yang dihuni anak-istri FSA juga. Syam Organizer juga bikin pabrik roti di Idlib. 

LOGIKANYA; kalau kalian bikin sumur di kamp Atmeh dan bikin pabrik roti, masa para terorisnya ga dikasih air dan roti juga?

ARTINYA: kalian menambah bahan bakar konflik di negeri orang, memberikan suplai logistik ke para teroris (meski kalian menyebut mereka "mujahidin").

Jadi akar  pro-kontra soal donasi ini sebenarnya adalah: FSA, HTS, TIP, dan ratusan milisi bersenjata lain yang menguasai Idlib itu teroris atau mujahidin?

Nah para pengepul donasi pro-"mujahidin," ga perlulah kalian muter-muter bikin video panjang lebar, mengata-ngatai Syiah, bahkan mendoakan saya cepat mati segala. 

Intinya: kalian menganggap mereka itu "mujahidin" dan  kalian mendukung berbagai pembantaian yang mereka lakukan atas dasar agama, terhadap pihak lawan yang kalian sebut "kafir."

Sesimpel itu, mau kalian tutupi fakta ini dengan narasi apapun, malah jadi blunder di atas blunder.

By : Dina S.

---
[1]https://www.indopress.id/article/nasional/kabut-bantuan-selamatkan-ghouta
[2]https://www.aa.com.t0r/en/pg/photo-gallery/syrian-refugees-at-atmeh-camp-in-idlib/0/20140

Rabu, 31 Maret 2021

Korban beragama yang salah..


Dari usia 5 tahun dia sudah yatim. Dia dan adik perempuannya dibesarkan oleh Ibunya. Dari kecil dia dibesarkan dengan cinta dan harapan. Tentu sang ibu berharap agar anak laki lakinya bisa menjadi tongkat di masa tuanya dan sekaligus menjadi palang pintu kehormatan bagi adiknya yang perempuan. Itu sebabnya dengan susah payah ibunya membesarkan dia dan mengirimnya ke universitas agar dia punya bekal terbaik bagi masa depannya. 

Tapi apa yang terjadi? perkembangnya di luar rumah, menggiringnya tidak menjadi putra ibunya. Dia tumbuh di luar cahaya dan harapan ibunya. Dia terbius oleh hasutan dari mereka yang sedang memperjuangkan agenda politik untuk berkuasa. Anak muda yang sedang mencari jati dirinya itu terperangkap dalam semangat apocalipso, siap mati demi keimanannya.  Demi nilai nilai yang dianggapnya jauh lebih tinggi dari doa dan harapan ibu yang melahirkannya.

Lambat laun dia tidak lagi nampak seperti putra ibunya. Dia tak merasa berdosa bila harus memarahi dan menegur ibunya, jika melakukan ritual adat, seperti barasanji. Marah kepada ibunya itu biasa saja. Seharusnya demi menegakkan aqidah, dia bunuhpun ibunya, itupun halal. Di hadapanya, ibunya adalah kaum yang tersesat akan kurafat, maksiat dan bidaah. Lupa dia bahwa sorga itu di bawah telapak kaki ibu. Lupa dia membentak ibu itu menggetarkan aras bumi yang membuat seluruh malaikat mengutuknya.

Keyakinan yang telah mencuci otaknya itu lebih dahsat daripada korban narkoba. Cinta ibu dan anak terkoyakan begitu saja. Drama pengorbanan ibu yang melahirkannya  dengan menyabung nyawa dan dibesarkan dengan susah payah sirnah sudah.  Diapun merasa tidak perlu lagi tinggal bersama ibunya. Dia pergi meninggalkan ibu dan adik perempuannya demi keyakinannya beragama. Bahkan ketika menikah, dia tidak perlu memberitahu ibu dan adiknya. 

Akhirnya dia dan istrinya yang baru menikah 6 bulan, membuat keputusan menempuh jalan apocalipso yang menjanjikan sorga dengan 72 bidadari cantik. Dengan tampa rasa takut dia membawa bom yang diikat pada tubuhnya. Sebelum tujuanya tercapai bom itu meledak. Kepalanya terlepas dan terlempar ke atas atap rumah orang.  Berakhir sudah cerita di dunia. Dia berharap mencapai puncak seorang insan yang mati karena sahid, dengan cara membunuh diri dan orang lain. Padahal hidup adalah berkah dari Tuhan yang menugaska manusia untuk memakmurkan bumi dengan cinta.

Dia telah tiada. Para pendukung dan mentornya pasti sudah melupakannya. Karena masih banyak orang lain yang antri untuk jadi seperti dia. Sementara ibu dan adik perempuannya, dalam kemiskinan menangis. Mereka yang jadi mentornya tidak peduli dengan air mata ibu dan duka adik perempuannya. Bagaimanapun, korban pertama kali dari cuci otak beragama yang salah itu adalah pelaku teroris itu sendiri. Sementara mentornya tinggal di rumah mewah bersama keluarganya dan hidup secara hedonis dan terhormat sebagai tokoh agama.

Sebaiknya, jaga putra putri anda dari pergaulannya di luar rumah. Larang dia ikut pengajian tertutup. Kalau tidak bisa juga dilarang lebih baik berhentikan dia kuliah. Cari tempat lain yang bersih dari gerakan radikal. Ingat pencucian otak radikalism jauh lebih merusak daripada narkoba. Jadi jagalah anak, sebelum semuanya terlambat.
.
.
EJB

Senin, 15 Maret 2021

MANTAN AGEN KGB PALING GENIUS


Jumlah muslim di Rusia diperkirakan akan terus meningkat dan bertambah menjadi populasi terbesar di benua Eropa, saat ini tercatat ada sekitar 16 juta lebih muslim di Rusia. 

Dalam sebuah kesempatan, sutradara asal Amerika Serikat bernama Oliver Stone (OS) pernah bertanya kepada Presiden Rusia, yakni Vladimir Putin mengenai bagaimana cara Vladimir Putin mengatur penduduk muslim di Rusia yang terus meningkat. 

Bagaimana selanjutnya Jawaban mantan agen rahasia KGB yang dikenal paling genius?

Oliver bertanya, “Di Rusia banyak muslim, bagaimana pemerintah mengawasi muslim di Rusia?"

Putin lantas menjawab “Mengapa muslim harus diawasi? Rakyat Rusia banyak yang muslim. Di Moskow ada 15% muslim. Tidak pernah ada masalah," tegas Putin.

Putin menambahkan bahwa kaum muslim bukan sebagai masalah yang harus diawasi. Akan tetapi mereka hanya korban dari politik Amerika dan sekutunya. “Kami tidak pernah menganggap muslim sebagai masalah. Itu hanya politik Amerika dan sekutunya. Terorisme misalnya, kapan Islam mulai diidentikan dengan terorisme? Setelah perang dingin berakhir. Amerika butuh musuh baru agar industrinya berputar,” kata Putin.

Pasca Perang Dingin, lanjut Putin, Uni Soviet bubar. Blok Militer Timur Pakta Warsawa dihapuskan. AS dan Rusia berdamai. Kita lucuti hampir 90% kekuatan nuklir. Rusia total keluar dari situasi perang dingin. Tapi AS, coba Anda lihat, sampai hari ini masih mempertahankan NATO, bahkan terus memperluasnya. “Saya bertanya pada Anda, untuk apa NATO tetap dipertahankan bahkan diperluas? Bukankah Rusia tidak lagi musuh AS? Lalu siapa musuh NATO? AS selalu tidak konsisten dengan ucapannya. Berbuat sesuka hati. Itulah bahaya Adikuasa tunggal di dunia," tegas Putin.

Putin melanjutkan, “Saya tidak heran ketika Obama ingkar janji. Kepada Rusia dan dunia, Obama mengatakan akan menutup Guantanamo. Faktanya, Obama keluar dari Gedung Putih, Guantanamo masih berdiri dan beroperasi. Rusia dan dunia sudah biasa menyaksikan inkonsistensi AS,” tambah Putin kepada Oliver Stone. 

Islam dunia hari ini bernasib sama dengan Uni Soviet di masa Perang Dingin. Jadi korban propaganda AS. Setelah meninggalkan, Irak porak poranda, AS menciptakan ISIS untuk memastikan konflik di Irak dan Timur Tengah terus bergolak. “Siapa bisa bantah fakta ini?" tantang Putin.

Oliver stone pun terdiam. 

Dari Jawaban putin ini seolah menjawab siapa dalang sebenarnya selama ini yang membuat Gejolak politik di dunia islam khususnya di Timur Tengah. Hingga munculnya istilah Islamofobia.
.
.
Dari laman Idielus Mulia Syofyan

Sabtu, 13 Maret 2021

MACRON, ERDOGAN SAMPAI JOKOWI JADI KORBAN HOAX ANAK KECIL


Masih ingat kasus guru di Perancis yang tewas digorok gerombolan radikal? 

Mulanya kisah di sebuah sekolah menengah, di pinggiran kota Paris. Menurut alkisah, guru di sebuah sekolah meminta murid yang beragama Islam keluar kelas sementara. Pasalnya dia mau menunjukan  gambar Nabi Muhamad. Nama gurunya Samuel Patty. 

Kebetulan ada anak berdarah Timur Tengah yang bersekolah disitu. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada ayahnya. Ayahnya menyebarkan info kepada komunitasnya. 

Isu terus melebar. Menyemburkan ke mana-mana. Kelompok Islam radikal yang emosinya bergerak lebih cepat dari bayangannya sendiri, langsung bereaksi. 

Oleh mereka, guru Samuel Patty dibunuh secara bengis. Lehernya digorok. 

Kasus itu menghebohkan dunia.  Perdana Menteri Macron mengecam perlakuan kaum biadab itu, seraya membela kebebasan berekspresi di Perancis. Ia membela guru Samuel Patty. 

Dunia Islam lain lagi. Mereka menganggap Macron dianggap memberi ruang kebebasan di negerinya untuk menista Nabi. Kontan negara-negara berpenduduk muslim bereaksi. Indonesia menegur duta besar Perancis. Erdogan mengecam dengan keras statemen Macron. 

Tapi kamu tahu gak apa yang sebenernya terjadi? 

Sebuah berita yang ditulis The Guardian, 9 Maret 2021 mengungkapkan hal lucu. Lucu tapi mengiris hati. Membuat saya sempat terkesiap. 

Rupanya tragedi itu diawali dari kebohongan siswi usia 13 tahun. Ia diskor dari sekolahnya, mungkin karena kelakuannya. Nah, karena khawatir dimarahi bapaknya, siswi itu berbohong. 

Ia gak ngaku diskor. Ia hanya mengisahkan bahwa guru sekolahnya sengaja memulangkan siswi beragama Islam, karena guru itu mau menunjukan kartun Nabi kepada murid-murid lainnya. 

Kisah itu dinyatakan  tanpa pretensi apa-apa. Siswi remaja itu hanya mau lolos dari kemarahan ayahnya. 

Sayangnya bapaknya termasuk orang beragama yang baperan. Si bapak menceritakan kisah bohong putrinya ke orang lain. Lalu kisah itu menyebar. Sampai ke seisi komunitas muslim di Paris. 

Padahal, kata Guardian, siswi itu hanya menghindari hukuman dari bapaknya. Ia menggunakan isu agama untuk bersembunyi dari kemarahan orang tua.

Yang namanya ortu, kalau menghukum, paling disuruh bersihin  kamar mandi sama gak boleh pegang HP seharian. Paling tinggi disentil kupingnya. 

Tapi ada daya. Isu sudah terlanjur menyebar. Membakar Perancis. Nyawa seorang guru jadi korban. 

Saya ingat, kehebohan kasus ini juga diangkat teman-teman di Cokro TV. Dengan segala sudut pandangnya. Dan kita semua tertipu. Tertipu oleh ulah seorang gadis kecil. 

Sebetulnya kita tertipu oleh persepsi kita sendiri. Soal-soal agama seringkali membuat orang menjadi cepat beringas. Apalagi kalau dibumbui dengan kata penistaan. Ditambah ada segerombolan orang yang hobi mengangkat bisu ini ke permukaan seolah Islam selalu disudutkan. 

Persepsi Islam kerap disudutkan itu yang membuat orang cepat bereaksi dengan kasar. Psikologi rendah diri yang teramat sangat. 

Saya ingat kasus sejenis terjadi di Tanjung Balai Asahan. Mulanya obrolan emak-emak di warung. Seorang Tionghoa mengeluhkan suara speaker masjid yang terlalu keras. Suaminya sedang sakit. 

Lalu apa yang terjadi? Isu bahwa ada orang Tionghoa menistakan suara adzan merebak. Tukang kipas bermain. Mengipas-ngipasi keadaan. 

MUI ikut menari juga pada kasus  itu. Rakyat Tanjung Balai tersulut emosinya. Mereka protes. Hasilnya sebuah vihara dan beberapa rumah terbakar. Ibu yang cuma ngobrol di warung, dijatuhi hukuman. Pidananya berat ; menista agama! 

Sebetulnya bukan perilaku yang disengaja yang membuat ibu Meiliana jadi pesakitan. Tapi cara beragama yang mudah tersinggung yang akhirnya membakar kota Tanjung Balai Asahan. 

Baru saja kemarin saya ikut mengadvokasi kasus Nakes di Pematang Siantar. 4 nakes pria melakukan disinfektan pada jenazah pasien Covid19. Kebetulan pasiennya wanita. 

Lalu disebar isu. Jenazah wanita muslim dimandikan oleh nakes pria bukan muhrim. Padahal yang dilakukan adalah disinfektan jenazah. Bukan memandikan. 

Tapi dasar gerombolan gila kasus dan keranjingan jihad, mereka menghebohkan  kasus ini dengan isu penistaan agama.  Empat nakes sempat dijadikan tersangka. Tuduhannya menistakan agama. 

Untung Kejaksaan Siantar sigap. Kasusnya digugurkan karena gak memenuhi pasal. 

Kesemua kegilaan atas nama agama ini bermula dari hal sepele. Dari anak yang berbohong pada ayahnya. 

Dari gosip emak-emak di warung sayur. 

Atau dari keluh kesah suami yang istrinya meninggal karena Covid19. 

Tapi akibatnya luar biasa. Bahkan sampai seluruh dunia ikut heboh. 

Semua ini mungkin karena sikap rendah diri dan insecure yang terus dipompakan kepada umat Islam. Mereka memandang pihak lain dengan rasa curiga berlebihan. Bahkan ujungnya punya alasan untuk menyakiti seperti yang terjadi pada guru Samuel Patty di Perancis. 

Sikap seperti itu kita tahu, ujungnya membawa petaka. Bukan kedamaian yang didapat. Tapi justru permusuhan. Bahkan hanya karena soal-sial sepele yang dibalut pikiran curiga. 

Kita bersyukur, kemarin dua tokoh agamawan bertemu di Irak. Ayatullah Sistani sebagai tokoh Islam Syiah. 

Dan Paus Franciskus sebagai tokoh Katolik. Mereka menyerukan perdamaian. Mereka hendak membuka tabir kecurigaan yang sering menghinggapi para penganut agama terhadap agama lainnya. 

Sebuah seruan indah dari dua tokoh berbeda agama. 

Dalam salah satu momen pertemuan kedua petinggi agama itu, ada sebuah poster indah. Isinya kutipan dari Imam Ali Karamullahu Wajhah. 

"Kita semua adalah saudara. Jika bukan saudara seiman. Kita bersaudara dalam kemanusiaan... "

Terhadap saudara, sudah semestinya syak wasangka tidak ditaruh di depan.

"Mas, ada siang ada malam, " tetiba Abu Kumkum berpantun.

By : Eko K.

Minggu, 14 Februari 2021

ARUS BALIK SANG PENDUKUNG


-  Media massa mainstrean dan konvensional bersama para aktifis LSM -  yang selama ini disuplai dana asing - juga kubu oposan,  kini kerepotan menghadapi netizen pro pemerintah.

Bahkan Dewan Pers pun terganggu. Menuding "buzzer" merusak kebebasan pers.   Bayangkan - lembaga berwibawa  yang seharusnya mengantisipasi perkembangan media massa - tidak siap menghadapi kehadiran media baru : media sosial - sebagai wujud demokratisasi sesungguhnya,  di mana kini setiap orang bebas bersuara (dengan gadgetnya) dan layak didengar.   Dewan Pers masih saja pakai paradigma lama. 

Sebagai orang media, saya tahu persis tak ada media (mainstream)  yang sepenuhnya independen.  Termasuk Dewan Pers - sebagai pengawasnya. Kasus Kompas TV yang terancam denda Rp. 500 juta atas laporan Veronica Koman dan sampul 'Tempo' yang tendensius - nyaman nendang sana sini -  adalah contohnya. 

Partisan selalu ada,   baik secara kelembagaan lewat kontrak bisnis,  maupun kesepakatan masing masing awaknya secara diam diam. Transfer langsung ke penulis berita. 

Banyak media mainstream terverikasi Dewan Pers patut diduga menyerang kementrian / instansi pemerintah supaya dapat jatah iklan atau diajak jalan jalan oleh menterinya. Dan dapat perlindungan mereka. 

Maunya mereka, presiden, menteri dan pejabat pemerintah boleh digebugi - bebas dicaci maki dan dihajar kanan kiri di media  -  dan tidak boleh melawan. Tak boleh menjawab - mengiyakan saja. Karena kritikus,  kalangan LSM,   dan aktifis antiperintah, jurnalis piaraan konglomerat dan mafia itu -  mahasuci dan mahabenar dan  menguasai kebenaran tunggal. Dan final.  

"Kalau mau jawab,  pasanglah advetorial / sponsor artikel di media kami. Kami segera kirim 'rate card'-nya ". 

Lho,  kok enak banget!?

Mereka merasa berhak mengawasi dan mengritik pemerintah dan kita rakyat yang nonton dan membaca tak boleh  mengawasi dan mengritisi mereka.  Wooh, enaknya! 

Kini mereka minta presiden menertibkan para pendukung istana dan menyembunyikan itikad jahatnya,  "ayo tertibkan buzzermu dan biarkan kami menyerangmu, menghajarmu. Jangan melawan, seperti sebelumnya". 

Media sosial dianggap panggung pertunjukkan wayang kulit.  Cuman dalang yang bebas omong -  yang lain musti diam dan nonton saja.  Yang berisik musti ditertibkan. 

Sosok publik yang dulunya pendukung mantan wapres mendadak membandingkan gubernur Jateng dan DKI dalam mengatasi banjir dan selalu menyebut diri "tidak berpihak kemana mana". 

Kadrun dan para pejabat pecatan,   menyerang di twitter, FB dan Youtube, lalu mereka minta pemerintah melalui humas,  membalas di koran dan majalah.  Jaka sembung bawa golok.  Ora nyambung,  Mbok. 

Logika yang sedang dikembangkan saat ini, warga pendukung pemerintah dijuluki "buzzer" dan "buzzerRp" - dengan konotasi negatif, hina dina  -  sedangkan penyerang pemerintah dijuluki "kritikus" / pengamat,  netizen : konotasi positif, makhluk mulia. 

Padahal  mereka itu itu juga. Pejabat pecatan yang tak laku laku,   nyinyir dan vokal karena masih ngarep posisi. 

Sebenar benarnya,  selogis-logisnya -  seakurat-akuratnya -  data dan fakta yang dikutip dari sumber pemerintah dan  pendukung, tetaplah disebut "buzzer" -  kelompok nista.  

Sedangkan oposan dan mereka yang cuma bisa cemooh,  nyindir,  mlintir pernyataan,  caci maki, nulis kotor dan meyebar hoax,  menyerang sebagai pelampiasan sakit hati itu tetaplah disebut "kritik" dari kritikus.  Orang mulia. 

Dulu Kwik Kian Gie mengritik di Kompas dan dimuliakan publik.  Kritiknya jadi nujum  dan kebenaran akhir yang tak terbantahkan.  Sekarang kritiknya digugat netizen.  Ini maksudnya apa?  Sudah pernah jadi orang pemerintah, memimpin Bappenas,   jejak hasilnya mana?    Dulu mengubah apa?  KKG langsung sewot. Ketakutan.  

KEMUNAFIKAN dan manipulasi adalah ciri netizen oposan dan penyerang para pendukung pemerintah.  Baik yang kini menggugat "buzzerRp" maupun buzzer gratisan.  Para relawan.

Bagaimana dengan aksi "buzzerDinar" dan "buzzer Dollar" ? BuzzerChaplin,  "buzzerCikeas" dan "buzzer Cendana" ?  Woii,   jangan belagak pilon!!  

Ada partai agama yang  claim sendiri punya "cyber army" sampai ratusan ribu yang tersebar di tanah air dan belagak pilon menggugat dana untuk influenzer di DPR RI.  Munafiqun !.

Sesungguhnya masing masing dari mereka juga punya tim buzzer dengan sebutan masing masing untuk  menyerang  istana dengan masif, sistematis  - lewat akun akun bodong. Bahkan ada yang digelari ustadz di kubu anti pemerintah yang ngaku ini "perang".  "Begini caranya perang sekarang" katanya pamer gadgetnya yang bertebaran di meja. 

Giliran dilawan,  diserang balik -  kalah dan  kehabisan logistik,  menjerit -  meraung raung. Teriak "bazzar - buzzer" istana.  Seperti yang lagi ramai sekarang. 

Mereka memanipulasi publik - seolah olah yang ditangkap polisi adalah intelektual dan ulama pengritik pemerintah dan istana.  Padahal yang ditangkap penyebar kebencian,   yang mencaci maki,  omong kotor dan menghina kyai/habib. Sengaja nantang aturan protokol kesehatan. Lagunya sok kuat padahal penyakitan.  

Akhirnya ko'it deh. Ormasnya koit, big imamnya sekarang sesak napas.  ***

By : Supriyanto M.

Menyampaikan kritik tanpa perlu ditangkap


“ Babo, mau tanya.” Kata Nitizen via WA.

“ Tanyalah.”

“ Kan Jokowi bilang silahkan dikritik. Tapi apa jaminannya tidak akan ditangkap ? 

“ Kritik itu hak kita sebagai warga negara. Bahwa kebebasan berpendapat dilindung UU. Jadi yang jamin itu bukan Jokowi tetapi UU. Jokowi hanya ingatkan sesuai dengan UU.

“ Tapi mengapa ada yang ditangkap karena kritik presiden”

“ Itu bukan karena dia kritiik. Tetapi karena dia melanggar UU. “

“ UU apa ?

“ UU ITE No 19/2006, itu berkaitan dengan penghinaa, atau pencemaran nama baik, berita bohong yang bisa menimbulkan kebencian. “

“ Jadi kritik seperti apa yang dimaksud presiden?

“ Kritik membangun. Selagi tidak terkait dengan pencemaran nama biak, berita bohong atau hoax yang bisa menimbulkan kebencian. Itu bebas saja. Dijamin engga akan ditangkap”

“ Bagaimana bisa bedakan pencemaran nama baik dengan kritik kepada seorang pejabat?

“ Gampang say..kritik jabatannya. Jangan personalnya. Contoh kamu tidak suka dengan pemerintah karena kebijakanya. Maka kritik ditujukan kepada presiden atau gubernur atau walikota/bupati atau menterinya, bukan ke personalnya”

“ Bisa contoh konkritnya.” 
�“ Jakarta setiap tahun semakin banyak titik banjir karena pemda DKI gagal melaksanakan normalisasi kali dan penataan hunian di bantaran kali. Nah itu disebur kritik. Ada sebab akibatnya. Tetapi kalau bilang “ Anies engga bener urus jakarta. Makanya jakarta banjir” Nah itu disebut nyinyir. Tapi kalau bilang sejak Anies jadi Gubernur DKI jakarta semakin baik.  Itu hoax.  Sama juga bilang, sejak Anies jadi guberur jakarta terus banjir. Itu juga hoax. Karena banjir ada bukan hanya di era Anies, di era gubernur sebelumnya juga banjir. Paham ya.”

“ Paham Babo. Jadi harus paham sebab akibat mengapa peristiwa terjadi dan gimana solusinya? 

“Tepat.” 

“ Terimakasih Babo”