Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2024

RADEN AYU LASMININGRAT : PAHLAWAN WANITA DARI GARUT YANG TERLUPAKAN


RADEN AYU LASMININGRAT : PAHLAWAN WANITA DARI GARUT YANG TERLUPAKAN

Raden Ayu Lasminingrat lahir pada tahun 1843 , beliau adalah putri dari Pasangan Raden Muhammad Musa dan Raden Ayu Ria (Seorang Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda) yang terkenal di zamannya.

Raden Ayu Lasminingrat mempunyai dua orang adik yaitu Nyi Raden Ratnaningrum dan Nyi Raden Lenggang Kencana. Menurut buku karya Prof. Dr .Nina H. Lubis, M.S yang menceritakan tentang Perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dikabarkan Ayahnya yang bernama Raden Muhammad Musa menginginkan putri - putri nya yang berjumlah 17 orang dari beberapa istri tersebut untuk bersekolah di Belanda.

Karena pada saat itu di Kota Garut belum ada sekolah macam semacam itu , maka Raden Mohammad Musa mendirikan sekolah Eropa ( Bijzondere Europeesche School ) dengan menggaji dua orang guru dari Eropa

Di sekolah ini , orang Eropa (Belanda) dapat bersekolah bersama sama dengan anak anak Pribumi dan anak laki laki bercampur dengan anak anak perempuan. Alhasil Raden Ayu Lasminingrat sangat fasih dalam berbahasa Belanda , bahkan seorang Administrator Perkebunan Teh Waspada di Cikajang yang bernama Karel Frederick Holle memujinya.

Pujian itu dinyatakan dalam surat K.F Holle kepada P.J Veth , antara lain menyebutkan "Anak perempuan penghulu yang menikah dengan bupati Garut , menyalin cerita dari negeri dongeng ( Oleg Goeverneur ) kedalam bahasa sunda.

RADEN AYU LASMININGRAT : PAHLAWAN WANITA DARI GARUT YANG TERLUPAKAN

K.F Holle memang sangat dekat dengan anak anak Raden Muhammad Musa , salah satunya dengan Raden Ayu Lasminingrat . Peranan K.F Holle dalam merevitalisasi Bahasa Sunda sangat besar , terbukti dengan menerbitkan buku buku dalam Bahasa Sunda dan K.F Holle juga mendorong Kaum Bangsawan untuk menulis karya - karya mereka dan menerbitkannya. Dalam buku karya Prof.Dr.Nina Lubis diceritakan bahwa Raden Ayu Lasminingrat pernah terlibat dalam penyusunan buku buku Pelajaran Sunda dengan biaya f.1200 oleh Pemerintah Belanda.

Pada tahun 1875 Raden Ayu Lasminingrat berhasil menerjemahkan karya dari Crishtop Von Schimdt dan Hendrik van Eichenfels ke Bahasa Sunda. Selanjutnya pada tahun 1876 Raden Ayu Lasminingrat menulis buku Warnasari atawa Rupa rupa Dongeng yang diterjemahkan dari Karya Marchen von Griim dan J.A.A Goeverneur dan beberapa cerita lainya ditulis dalam Aksara Jawa. Tahun 1903 dan 1907 terbit edisi ke dua dan ketiga . Tahun 1887 menulis Warnasari , jilid ke dua ditulis dalam aksara Latin , selanjutnya dicetak edisi kedua tahun 1909.


Julie D'Aubigny, Ikon Feminis Perancis dari Abad ke-17

 

Perempuan Berdaya: Julie D'Aubigny, Ikon Feminis Perancis dari Abad ke-17
Perempuan Berdaya: Julie D'Aubigny, Ikon Feminis Perancis dari Abad ke-17
Editor: Shintaloka Pradita Sicca

Pada abad ke-17 di Perancis muncul perempuan berdaya, ikon feminis yang memecahkan stereotip gender, bernama Julie D'Aubigny.

Julie adalah seorang biseksual, penyanyi opera, dan petarung, hingga memikat Raja Louis XIV. Hidupnya diwarnai skandal yang menggegerkan Perancis dan tak terlupakan dari masanya.

Julie D'Aubigny adalah nama populer wanita ini, karena tidak ada yang tahu pasti nama aslinya. Ia juga biasa dipanggil "La Maupin".

Julie adalah putri dari Gaston D'Aubigny, sekretaris Louis de Lorraine-Guise, Comte d'Armagnac, Master of the Horse untuk Raja Louis XIV. Diyakini ia lahir sekitar 1673.

Melansir The Rake, Gaston adalah seorang ahli pedang, yang menginginkan putrinya mewarisinya. Ia pun mendandani putrinya layaknya laki-laki. Suatu upaya maskulin untuk putrinya, yang tidak biasa pada zaman itu.

Memasuki masa pubertas, pada usia 14 tahun, Julie menjalin hubungan intim terlarang dengan majikan ayahnya. Setelah bosan, ia melarikan diri dengan master anggar miskin, tetapi berkarisma bernama Serannes.

Namun, ayahnya sempat mengatur pernikahan untuknya dengan Sieur de Maupin. Sayangnya, sehari setelah pernikahan mereka, de Maupin dikirim bertugas untuk mengisi posisi administratif ke Toulouse di Prancis selatan.

Di Marseille, tempat pelarian Julie, ia menarik banyak orang dengan kemampuannya bermain anggar. Dengan kehebatannya itu dan pakaian masulinnya, banyak yang tidak mengira ia adalah seorang wanita.

Seorang pria lawan tandingnya mencela bahwa wanita tidak mungkin berduel sebaik dia. Seketika, ia membuka blusnya, dan pria itu terdiam melihat sosok wanita di baliknya.

Tidak hanya permainan anggarnya, ia menarik banyak perhatian karena suara yang merdu, yang membawanya berkarir di opera.

Dia menjadi penyanyi fenomenal di sana, meski dia tidak dapat membaca notasi musik. Namun, ia mampu menghafal dengan sangat hebat, sehingga ia bisa mengatasinya.

Dikombinasikan dengan kecantikan alami dan bakat aktingnya, dia menjadi hit di Marseille.

Selain dengan pria, Julie memiliki petualangn cinta dengan wanita.

Ia jatuh cinta dengan seorang gadis hingga mengejarnya di biara, tempat keluarga gadis itu berusaha untuk menjauhkan mereka. Namun, wanita maskulin itu tidak mudah dihalangi.

Ia mengikuti gadis itu ke biara di Avignon. Saat ada kesempataan, mereka berencana untuk melarikan diri bersama.

Saat seorang biarawati tua meninggal, kedua wanita itu melihatnya sebagai peluang. Mereka mengambil jasad biarawti tua itu ke tempat tidur gadis itu, lalu membakar gedung dan melarikan diri.

Saat kebenaran dari kebakaran itu terungkap, La Maupin ini dijatuhi hukuman mati dengan api dalam pengadilan in absentia.

Disebutkan dalam catatan sejarah yang dikutip Kompas.com dari Medium, sepanjang persidangan ia diadili sebagai seorang pria.

Ada anggapan bahwa kelurga gadis itu sengaja menutupi identitas aslinya agar tidak malu dengan hubungan gay putrinya. Namun, setelah 3 bulan hubungan mereka berakhir karena bosan.

Surat perintah hukuman mati membayanginya, mendorongnya mendekati sejumlah pria yang dapat membantunya bebas. Dia sangat persuasif, untuk membuat mereka mengajukan petisi kepada Raja Louis XIV agar ia diampuni sepenuhnya.

Dengan kisah-kisah eksploitasinya, sang raja mengabulkan dan ia bebas dari hukuman mati.

Setelah mendapatkan kesempatan hidup lagi, Julie D’Aubigny kembali berpetualang dengan pria maupun wanita, saat ia terjun memainkan banyak peran di Paris Opera.

Salah satu peran yang membuatnya sangat terkenal dan mendapatkan banyak cinta adalah saat menjadi Pallas Athena di pertunjukan Cadmus et Hermione oleh Lully dan Quinault.

Ada momen ia bertengkar dan menantang untuk berkelahi dengan salah satu aktor kurang ajar yang merayunya, tetapi ia tolak mentah-mentah. Perkelahian saat itu dilerai oleh teman opera lainnya.

Julie menanti malam tiba. Di luar teater, ia berhasil menghajar pria itu dengan tongkat, kemudian mencuri arloji dan kotak tembakaunya.

Keesokan harinya, ketika pria itu datang ke teater, dia berdalih telah dirampok oleh sekelompok pria.

Sepengkal kisah lainnya dari petualangan La Maupin terjad di malam pesata dansa yang diadakan oleh saudara laki-laki Raja Louis XIV.

Berpakaian sebagai seorang pria, ia mencium seorang wanita muda di lantai dansa. Seketika ia tantang berduel dengan 3 pria.

La Maupin meladeninya. Di bawah sinar bulan, ia melawan satu demi satu dari ketiga pria itu hingga tewas.

Insiden itu mengejutkan otoritas kerajaan, dan harus mendapatkan hukuman dari raja.

Segera La Maupin melarikan diri ke Brussel.

Untuk kedua kalinya, ia bebas dari hukuman lagi setelah diketahui fakta bahwa ia adalah wanita dan hukum itu hanya berlaku untuk pria, sehingga ia lolos.

Abad ke-17 di Perancis adalah waktu dan tempat yang unik dalam sejarah dan salah satu dari sedikit tempat yang memungkinkan orang menjalin hubungan biseksual dan non-konformis gender secara terbuka, seperti yang dilakukan oleh Julie D'Aubigny.

Sementara, Raja Louis XIV adalah sosok pemimpin yang melindungi tindakan itu untuk melemahkan politik gereja, melalui seni, dan opera menjadi salah satu "medan pertempuran" untuk memberikan patronase kepada seniman.

Louis XIV tidak dapat bertindak keras terhadap kaum gay, karena saudaranya sendiri, Philippe I, Duke of Orleans diketahui adalah seorang gay, seperti yang disebut oleh Medium.


Senin, 01 Juli 2024

HANG TUAH ADALAH PAHLAWAN BERASAL DARI ANAK RAJA DAERAH BAJENG , GOWA, MAKASSAR

 



Sejarah Laksamana Hang Tuah dan Para Sahabatnya
RIWAYAT HIDUP HANG TUAH:
1. Nama sebenar Hang Tuah adalah Daeng Merupawah atau Daeng Mempawah, iaitu anak kepada Raja yang pernah memerintah Daerah Bajung (ejaan sebenarnya adalah Daerah Bajeng, Gowa, Makassar).
Hikayat Sulatus Al Salitin bertulisan jawi dengan ejaan ‘Ba Alif Jim Nga’ menyebabkan sebutannya menjadi Bajung. Tidak pernah wujud Daerah Bajung di Makassar atau Gowa tetapi yang ada hanyalah Daerah Bajeng, di Gowa, Makassar.
2. Hang Tuah telah dilahirkan pada tahun 1388 Masehi. Ini kerana mengikut riwayat, usia Hang Tuah pada tahun 1400 Masehi adalah 12 tahun. Pada usia tersebut beliau telah berjaya membunuh 2 orang yang mengamuk di Bajeng.
3. Kesultanan Gowa:
3.1 Tumanurunga (1300 Masehi)
3.2 Tumassalangga Baraya
3.3 Puang Loe Lembang
3.4 Tuniatabanri
3.5 Karampang ri Gowa
3.6 Tunatangka Lopi (1400 Masehi)
3.7 Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
3.8 Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
3.9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (1500 Masehi)
4. Seri Bija Pikrama dan Tun Sura Diraja, dari Melaka telah datang ke Makassar dan berjumpa dengan Raja Gowa (Batara Gowa Tuminanga Ri Paralakkenna). Raja Gowa menyambut baik kedatangan Seri Bija Pikrama dan ingin mengirim sesuatu kepada Sultan Mansur Syah sebagai balasan dari kunjungan tersebut. Seri Bija Pikrama menyatakan bahawa Sultan Mansur gemar mengumpul anak anak muda yang memenuhi syarat syarat tertentu untuk dijadikan pahlawan negeri Melaka. Mendengarkan hal itu, Raja Gowa telah menyuruh orangnya mencari anak muda seperti yang dikehendaki dan menepati syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dibawa dan dijadikan pahlawan Melaka.
π™ƒπ˜Όπ™‰π™‚ π™π™π˜Όπ™ƒ
5. Kisah Hang Tuah membunuh 2 orang yang mengamuk di Bajeng sewaktu berusia 12 tahun telah mendapat perhatian Raja Gowa. Hang Tuah telah terpilih untuk menyertai rombongan ke negeri Melaka.
6. Sultan Mansur Syah, sebelum pemilihan Hang Tuah, telah ada 8 orang anak anak muda yang menepati dan memenuhi syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dijadikan pahlawan pahlawan Melaka. Mereka adalah;
6.1 Hang Jebat
6.2 Hang Kasturi
6.3 Hang Lekir
6.4 Hang Lekiu
6.5 Hang Ali ( Tun Bija Sura@Tun Ali@Tok Bongkok)
6.6 Hang Iskandar
6.7 Hang Hassan
6.8 Hang Hussin
7. Ketua kepada mereka bersembilan ini adalah Hang Ali@Tun Bija Sura. Hang Ali diberikan jawatan Bendahara Tun Ali sewaktu pemerintahan Sultan Mansur Shah.
8. Hang Tuah dikatakan melebihi kesemua yang lain didalam ilmu dan kepandaian persilatan. Hang Tuah telah diberikan oleh Sultan Melaka sebilah keris bernama Terupa Melaka semasa sampai di Melaka. Beliau telah banyak berguru kepada hulubalang hulubalang di Melaka.
9. Dalam lingkungan usia antara 25 dan 26 tahun, Hang Tuah telah mengahwini Raja Maznun Mazni binti Raja Azman Shah yang merupakan sepupu kepada isteri Raja Long Alwi. Raja Long Alwi adalah anak saudara kepada Raja Bersiong dan merupakan putera sulung kepada adinda Raja Bersiong iaitu Raja Zulkarnain ibni Almarhum Raja Syahibul Khalid Abdullah. Tujuan pernikahan ini adalah untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan Hang Tuah dengan kerabat diraja Kedah ketika itu.
10. Perkahwinan kedua Hang Tuah adalah dengan Raja Intan Maimunah binti Raja Ibrahim Malik yang merupakan anak saudara kepada Wan Malini. Keturunan isteri keduanya juga berasal dari Kedah tetapi sudah lama menetap di negeri Kelantan serta ada yang telah berkahwin dengan kerabat diraja Kelantan.
11. Keturunan Hang Tuah:
Anak dari isteri pertama Tun Sendari (Adik Tun Bija Sura @ Tok Bongkok):
1. Tun Sirah (perempuan) kahwin dengan Maulana Sayyid Fadillah Khan bin Maulana Patakan Ismail bin Maulana Sayyid Barkat Nurul Alam bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra. Nama lain nya Laksamana Temenggung Khoja Hassan atau Tubagus Pasai atau Falalten atau Raden Hidayat
CUCU DARI ISTERI PERTAMA
1. Tun Abdullah (Lelaki)
2. Tun Biajid (Lelaki)
3. Tun Daerah (Perempuan) - Berkahwin dengan Sultan Mahmud Syah
CICIT DARI ISTERI PERTAMA
1. Raja Dewi binti Sultan Mahmud Syah
Anak dari Isteri Kedua Tun Ratna, adik Tun Perak Dari keluarga Bendahara Paduka Raja:
1. Tun Guna (Lelaki)
2. Tun Emas Jiwa@ Tun Mas Dewi (Perempuan) - Berkahwin dengan Hang Nadim bin Hang Jebat melahir kan Tun Hamzah , beranak kan Tun Mat Ali yang bergelar Datuk Seri Bertam.
CUCU DARI ISTERI KEDUA
1. Tun Mat Ali Hang Nadim
Cicit dari isteri kedua
1. Tun Hamzah Tun Mat Ali
Piut dari isteri kedua
1. Tun Ali Tun Hamzah - Tun Ali bergelar Datuk Seri Bertam
12. Hang Tuah meninggal dunia setelah sekembalinya Hang Nadim dari perjalanan ke Benua Keling. Hang Tuah telah dimakamkan di Tanjung Keling, diMelaka. Pengganti jawatan Laksamana adalah menantunya sendiri, Temenggung Khoja Hassan.
SUMBER RUJUKAN:
1. Hikayat Sulatus Al –Salatin karangan Tun Muhammad atau Tun Seri Lanang pada tahun 1612 Muka surat 104. Pada masa kini terdapat beberapa versi antaranya versi Winstedt dan versi Shellabear.
2. Naskah Raffles Malay 18 masih tersimpan di Royal Asiatic Society, London atau Sulatus al-Salatin Cod. Or. 1704 yang tersimpan di Universiti Leiden, Belanda
3. Buku "Amando Cortesao - The Suma Oriental of Tome' Pires", Pires adalah seorang Portugis yang berada di Melaka semasa Portugal menyerang Melaka pada 1511, beliau menyatakan "Kalaulah Hang Tuah masih ada di Melaka, Portugis tidak akan berani menyerang".
4. Buku "A. Kobata and M. Matsuda - Ryukyu relations with Korea and south sea countries" A. Kobata telah merujuk kepada kepada catatan bernama "Rekidai Hoan" yang telah ditulis dan disusun pada 1697 oleh Raja kepulauan Ryukyus yang mana didalam catatan tersebut ada menyebut mengenai keberanian Hang Tuah yang telah masuk ke pelabuhan di Kemboja semasa perang saudara sedang berlangsung diketika itu untuk mengambil air minuman dengan menggunakan perahu layar kecilnya.
Sumber diambil daripada:
**SUMBER :
Ustaz Wan Kamarulzaman (PSSGSM), Himpunan oleh Penglipur LaRa

Jumat, 28 Juni 2024

Nashar, Pelukis Minang di Teras Marginal

 

Kehidupan pelukis Nashar tercermin dari goresan kuasnya diatas kanvas yang penuh teka-teki, sulit dimengerti. Dalam berkarya, ia memilih jalan sunyi, marginal dari pasar.

Padahal, Nashar begitu produktif melukis. Ratusan lukisannya tersebar di beberapa kolektor dan galeri. Lukisannya pun bisa dikatakan bernilai tinggi, dan sebetulnya bisa menjadikan ia kaya. Tapi nasib berkata, hingga akhir hayat, lelaki asal Pariaman ini tidak punya sepetak rumah pun.

Ia selalu membawa sketsa, ditulis lalu dituangkan di atas kanvas. Lukisan dia bukan tak dilirik pasar, justru ia memilih untuk tidak dalam dekapan pasar atau melukis untuk pasar.

Mendiang Jeffrey Hadler (sejarawan dari University of California, Barkeley), beberapa tahun lalu, datang ke Universitas Andalas, Padang, dalam rangka meriset Nashar.

Dalam kesempatan tersebut, Jeffrey Hadler mengatakan Nashar adalah pelukis Indonesia yang sangat idealis, memilih marginal dari pasar. Ia melawan arus komersialisasi dari seorang pelukis.

Nashar lahir di Pariaman, Sumatera Barat, 3 Oktober 1928. Sedari kecil sudah hidup dalam gelimang kemiskinan. Ketika zaman penjajahan Jepang, Nashar diboyong merantau ke Jakarta oleh keluarganya.

Nashar lebih menjadi liar ketika ayahnya menikah lagi. Ia memilih dunia seni lukis, ketimbang menjalankan keinginan ayahnya agar menjadi pedagang.

“Nashar , orang Pariaman yang besar di rantau. Ketika zaman revolusi, ia bergabung dengan Seniman Muda Indonesia (SMI), dan mengikuti lembaga itu pindah ke Madiun dan Solo. Nashar juga pernah tinggal di Yogyakarta di sanggar Affandi,” jelas Jeff, panggilan Jeffrey Hadler.

Titik penting Nashar dalam dunia lukis adalah ketika dibaptis ‘tak berbakat’ oleh Bapak Seni Rupa modern Indonesia Selo Sudjojono.

Ajip Rosidi dalam buku Mengenang Orang Lain: Sejumlah Otobiografi, menuliskan, Pertemuan Nashar dengan Sedjojono bermula ketika Nashar mendaftar belajar melukis yang diselenggarakan Keimin Bungka Sidhoso -Pusat Kebudayaan Jepang-, yang dipimpin Sudjojono.

Mungkin saja maksud Sudjojono baik, supaya Nashar terus belajar tiada akhir. Dan kata-kata Sudjojono pula kemudian menjadi cemeti bagi Nashar untuk membuktikan bahwa dia berbakat.

Dimata Ajip, Nashar orangnya begitu keras kepala. Ia pantang menyerah untuk terus bisa membuktikan bisa melukis, terutama kepada Sudjojono yang menyepelekannya.

Kepada kawan-kawannya sesama pelukis dan juga mahasiswanya kelak, Nashar sering melafalkan kalimat seperti ini, “Bila kau tak memiliki bakat, kau harus menerobos tembok yang memisahkan tidak berbakat dan berbakat itu. Dengan begitu kau tahu, apakah kau memang tidak berbakat atau justru berbakat”.

Hari-hari Nashar sebetulnya adalah tahun 1960-an dan 1970-an. Periodik dimana dia begitu menanjak dalam berkarya, dan masa-masa kegetiran yang tertuang dalam Surat-Surat Malam yang ditulis tahun 1976.

Selepas dari Yogyakarta, Nashar hijrah ke Jakarta. Menurut Jeff, ia tinggal di rumah Lutan Madjid, tokoh dan sesepuh partai Murba. Sebelumnya, Tan Malaka pun pernah tinggal di sana.

Di rumah Lutan, Nashar bersentuhan dengan karya-karya Tan Malaka. Di Jakarta pun kemudian, Nashar melebur di Gabungan Pelukis Indonesia (GPI).

Kelak, melalui istri Lutan, Nashar mendapat jodohnya. Ia memperistri gadis Sunda. Buah percintaan mereka melahirkan 3 orang anak. Semuanya mengikuti jejaknya, jadi seniman terutama melukis.

Kesusahan hidup, menurut Jeff, tahun 1967, Nashar pernah diusir dari rumah kontrakan. Sejak itu, ia memilih nomaden.

Tinggal di Balai Budaya hingga sanggar lukis di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), kelak berubah menjadi Institut Kesenian Jakarta.

Di ruang-ruang demikian, ia menghabiskan malam dengan melukis, dan tidur atas tikar jika merasa sudah teramat mengantuk.

“Nashar dunia wisma. Tinggal di ruang-ruang budaya di Jakarta. Ada artikel yang menulis Nashar si pelukis miskin,” ujar Jeff dalam diskusi tentang Nashar di ruang pertemuan dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Senin (22/7/2014).

Tahun 1963, Nashar ikut menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu). Ia pun terlibat dalam pendirian LPKJ tahun 1976.

Nashar terkenal sebagai sosok yang idealis, konsisten menjaganya tanpa mau berkompromi terutama kemauan pasar.

“Ia tidak suka menjual lukisannya. Jika hanya butuh uang, ia lemparkan ke mahasiswa membeli lukisannya berapa pun duit adanya,” terang penulis buku Sengketa Tiada Putus yang meninggal dunia 11 Januari 2017 ini.

Nashar, dikatakan Jeff, memberi contoh melukis 100 persen murni melukis. “Nashar setia sekali dengan hati dan ide dia sendiri,” tukasnya.

Seperti juga hal yang ditulis Ajip, bagi Nashar, melukis adalah ekspresi diri, sehingga apa yang ia lukis merupakan pancaran dari dirinya. Melukis juga telah menjadi pacar sejati baginya hingga akhir hayat.

“Nashar adalah contoh monumental tentang dedikasi seniman terhadap keseniannya,” kata Ajip.

Dalam melukis, Nashar mengesampingkan teori. Ia mengembangkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghasilkan karya yang imajinatif, dengan mendekonstruksi teori seni lukis.

Jeff sendiri berpendapat, Nashar beraliran sosio realis. Lukisannya absrak seperti pola hidupnya. Lukisan Nashar, kata Jeff, memiliki ciri khas seperti ada sesuatu organik, binatang, dan ada goresan terang.

Penyair Sumatera Barat Rusli Marzuki Saria menilai, Nashar sangat total dalam melukis. Ia menghayati bahwa orang Minang dalam membangun republik dalam kondisi kemelaratan.

Salah satu lukisan terkenal Nashar adalah Renungan Malam. Lukisan tahun 1978 ini, Nashar mengungkapkan bagaimana perasaannya pada bentuk-bentuk bebas dari representasi alam atau objek apa pun.

Dalam melukis atau pun diskusi dan menulis, Nashar selalu ditemani kretek dan juga bir.Budayawan Sumatera Barat Edi Utama yang mengenal dekat Nashar, mengatakan, diskusi sambil minum bir di Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah hobi Nashar.

“Ia seperti sufiistik. Ia tidak terlalu banyak memikirkan hidup,” ujar Bung Edi.

Menurutnya, Nashar hadir sebagai sebuah pribadi antara ada dan yang tiada.

Nashar meninggal di Jakarta, 13 April 1994, dalam usia 65 tahun. Ia meninggal dalam masa-masa sulit. Bahkan untuk biaya berobat, ia mencoba menjajakan lukisan melalui kawan-kawan. Namun itu tidak menolong.

Nashar memiliki tiga orang anak yakni Anwar Juliadi, Sugata Nashar, dan Buyung Sujali (Alm).

Sama seperti Nashar, anaknya juga menapaki dunia kepelukisan. Anwar begitu menghormati Nashar dan juga karyanya, kata Jeff, sementara Sugata melanjutkan estafet gaya hidup Nashar, dengan tetap tinggal di Balai Budaya Jakarta saat ini.

 



 

Kamis, 23 Mei 2024

Kaisar Yongle Dan Qillin

 



Kaisar Yongle (Hanzi: 永乐, lahir di Nanjing, Cina, 2 Mei 1360 – meninggal 12 Agustus 1424 pada umur 64 tahun) adalah kaisar ke-3 dari Dinasti Ming, Tiongkok yang memerintah dari tahun 1402 hingga 1424. Ia terlahir dengan nama Zhu Di (朱棣), putra ke-4 dari Zhu Yuanzhang (Kaisar Hongwu). Ia menjadi kaisar setelah menggulingkan keponakannya melalui kudeta berdarah yang dikenal dengan nama Insiden Jingnan. Yongle adalah salah satu kaisar terbaik yang pernah memerintah Tiongkok. Prestasinya antara lain mengirim ekspedisi pelayaran keliling dunia di bawah pimpinan kasim Zheng He sehingga budaya dan keagungan Tiongkok tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menyunting Ensiklopedia Yongle, ensiklopedia pertama yang terbesar dan terkomprehensif di dunia. Dialah yang memindahkan ibukota Ming dari Nanjing ke Beijing yang tetap menjadi ibukota hingga kini.

  Ambisi kaisar Yong Le:


  Ekspedisi Zheng He :

 

 Kaisar Yongle dan Jerapah :

Jumat, 10 Mei 2024

Raja Intel : mata dan teliga Suharto, riwayat Ali Murtopo

 


Ali Murtopo, sebuah nama yang pada masa ini sudah sangat jarang disebutkan namun pada masanya menjadi sangat diperhitungkan. Dia dikenal sebagai sang raja intel yang menjadi telinga dan mata suharto dalam rangka menjaga kestabilan politik masa orde baru. Nama Ali Murtopo dengan tangan dinginnya tak pandang bulu dalam menindak siapapun yang berani mengganggu kestabilan politik dan keamanan pada masa orde baru. Karena hal itulah sosok bekas jendral TNI ini sangat dekat dengan the smiling general, Suharto dan bertanggung jawab dalam langgengnya kekuasaan orde baru. Ali Murtopo lahir di Blora pada tanggal 23 September 1924 merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia intel khususnya di Indonesia. Ali mengawali karirnya sebagai prajurit dan tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang di tempatkan di bawah Kodam Diponegoro di bawah Jendral Ahmad Yani. Ali ktif di kesatuan Banteng Raider, sebuah pasukan elit yang berspesifikasi anti gerilya. Pada tahun 1956, Ali sudah berjasa pada Suharto ketika melakukan manuver untuk melanggengkan Suharto menjadi Pangdam Diponegoro. Dari dukungannya itu Ali dihadiahi jabatan Asisten teritorial oleh Suharto.

 



Setelah Suharto di pindah tugaskan Ali tetap mengabdi dalam rumpun Kodam Diponegoro sampai ketika pembentukan Cadangan Umum Angkatan  Darat (CADUAD) yang menjadi cikal bakal KOSTRAD dimana Suharto dipercaya sebagai Panglima Caduad dan Ali sebagai Asisten Kepala CADUAD. Masa berganti ketika Suharto naik kuasa ketika Sukarno dilengserkan. Sebagai anak buah yang patuh ali kembali dipilih Suharto untuk menjadi asistennya di pemerintahan. Ali dimasukan dalam Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN) cikal bakal BIN dan banyak melakukan misi intelejen tingkat tinggi. Ali dikenal memiliki sebuah satuan khusus yang dinamakan Operasi Khusus yang diguakan untuk memberangus lawan politik Suharto. Keberadaan Opsus ini bahkan juga ditentang oleh internal BAKIN yang menganggap bahwa Opsus Ali Murtopo sangat absolut dan menghalalkan segala cara. Sepak terjang opsus ini sangat mengerikan dan tidak ada yang bisa menghentikan mereka kecuali Suharto sendiri. Dalam sebuah memoarnya, Ali Murtopo mengatakan bahwa Opsus tidak bertanggung jawab pada BAKIN namun bertanggung jawab langsung terhadap presiden, untuk mengentikan Opsus perlu perintah langsung dari Presiden Suharto.

 Kiprah Opsus sudah bisa terendus sejak masa pemerintahan Sukarno. Ali Murtopo bersama Opsus secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sukarno melakukan lobi dengan Tun Abdul Razak selaku mentri pertahanan Federasi malaysia. Aksi nya tersebut sangat menghianati Sukarno yang pada saat itu sedang melakukan konfrontasi dengan malaysia. Ali juga dianggap sebagai orang yang mempengaruhi Suharto untuk menyederhanakan partai di indonesia yang menurutnya akan lebih mudah diawasi dan diatur jika disederhanakan dalam beberapa partai saja. Ide ali ini terwujud pada tahun 1973 dimana partai melebur jadi 3 golongan partai saja dan pemerintahan mudah dikendalikan. Masa awal kekuasaan suharto terkenal dengan pembersihan PKI di berbagai daerah di indonesia. Suharto melalui Ali Murtopo berusaha menghimpun rakyat dari berbagai golongan untuk menumpas PKI sampai akarnya di berbagai daerah. Untuk melakukan itu perlu sumber daya yang besar dan mau membasmi PKI klarena suharto tidak dapat menggunakan tentara untuk melakukan pembasmian karena citra pemerintahannya di dunia akan tercoreng. Ali Murtopo menghimpun kekuatan yang berasal dari darul Islam untuk membantai PKI di daerah-daerah. Padahal ide ini sudah ditentang oleh Sumitro atasannya di BAKIN namun dia tidak mengindahkannya.





Pada tahun 1969 pada saat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat (kini Papua), Suharto melalui tangannya yaitu Ali Murtopo memerintahkan Opsus untuk memenangkan Pepera lewat berbagai cara. Mereka antara lain Letkol Ngaeran, Letkol P. Soedarto, dan Letkol Soegianto. Perwira-perwira intel ini berperan dalam mengerahkan mahasiswa dan pemuda dari Jawa ala Peace Corps untuk menggalang rakyat Papua bergabung ke dalam RI. Rakyat dimobilisasi dengan seruan-seruan nasionalisme dan janji-janji yang memabukkan. Hasil operasi ini sangat bagus dengan keputusan Papua untuk bergabung dalam NKRI. Kemenangan ini sekaligus kemenangan Ali Murtopo dengan operasinya.  Opsus juga memobilisasi masa khususnya mereka yang berlatar belakang agama untuk memilih dan mendukung golkar. Manuvernya ini juga berlaku untuk golongan pegawai negri sipil negara dengan kampanye yang terkenal yaitu pegawai negeri adalah golkar dan harus memilih golkar. Hasilnya Golkar menang telak pada pemilu tahun 1971.
 


Sepak terjang Ali Murtopo tentu mendapat tentangan khususnya dari atasannya sendiri yaitu Sumitro, kepala BAKIN. Sumitro pernah mengusulkan pembubaran Opsus namun dengan jelas Suharto menolak karena Suharto masih memiliki kepentingan di dalam Opsus. Tidak berhenti disitu, Sumtro melakukan perlawanan melawan pengaruh ali yang merupakan bawahannya sendiri. Sumitro menyarankan Ali untuk diangkat menjadi mentri penerangan saja, Suharto menyetujuinya namun Ali menolaknya. Ali sadar jika menjadi penerangan kewenangannya terbatas dan opsus akan dibubarkan tanpa dirinya. Sumitro juga menyebarkan desas desus bahwa Ali berusaha mengguncangkan Suharto dan merebut kekuasaan sebagai presiden. Sumitro berusaha mengimbangi kekuasaan Ali dengan melakukan gerakan yang mengunjungi kampus kampus yang mengkampanyekan sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah. Sumitro juga menggalang nasionalisme dikalangan mahasiswa yang menolak investor dari luar yang diibaratkan sebagai penjajahan jenis baru. ampanye Soemitro berhasil. Di kalangan mahasiswa, popularitas Soemitro cukup tinggi. Citranya lekat sebagai reformator di tengah kemuakan terhadap “jenderal politik” dan “jenderal uang” yang bernaung di bawah lembaga Aspri. Mahasiswa yang kesal dengan jendral-jendral uang menggeruduk kediaman Ali yang dianggap sebagai salah satunya, sebelumnya juga pasukan penjaga rumah Ali ditarik oleh Sumitro yang memungkinkan mahasiswa melakukan kerusuhan di rumah Ali.

 



Ali yang merasa diserang martabatnya melakukan serangan balik, ali menyadari gerakan mahasiswa akan semakin besar dan menentang pemerintahan Suharto. Hal tersebut dibuat skenario oleh Ali yang bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Melalui Opsus, Ali meyakinkan mahasiswa bahwa dengan kedatangan Perdana Mentri Jepang akan menimbulkan wujud penjajahan baru berkedok investasi. Ali membuat skema aksi mahasiswa disertai kerusuhan yang mana sebelumnya sudah diketahui oleh Ali. Namun Ali tidak mencegah hal tersebut malah menambah besar. Puncak perseturuan Ali dan Sumitro pecah ketika terjadi kerusuhan Malari. Presiden Soeharto ikut merasa dipermalukan, ia marah besar dan menganggap maslah ini tidak perlu terjadi jika intel dapat mengetahui terlebih dahulu. Suharto kehilangan investor potensialnya yang menjadi sumber dana untuk pembangunan. Kerusuhan itu menempatkan Soemitro sebagai pejabat negara yang paling bertanggung jawab.





Ali merasa siasatnya berhasil terbukti dengan mundurnya Sumitro dari jabatannya dan memutuskan pensiun dini beserta jajaran pendukungnya yang rata-rata dimutasi sebagai duta besar maupun lembaga lainnya. Namun suharto insyaf dan menyadari berbahayanya pengaruh Ali dengan Opsusnya dan memutuskan memberangus Ali juga. Opsus milik Ali dikebiri dengan wewenangnya yang dikurangi. Selain itu Suharto juga menemukan orang yang lebih baik dan lebih terpercaya yaitu Benny Moerdani. Karir ali Moertopo di habisi oleh tuannya sendiri dan tidak pernah lagi menempati jabatan strategis. Jabatan tertinggi Ali Moertopo yaitu mentri Penerangan selama satu periode setelah itu karirnya mandek dan diasingkan oleh Suharto karena Suharto menyadari berbahayanya Ali dan mencegah Ali menyerang dirinya. Ali meninggal pada usia 59 tahun, meninggal di Jakarta, 15 Mei 1984. Sumbangsihnya yaitu ia mendirikan CSIS (Centre for Strategic and International Studies) yang merupakan lembaga penelitian kebijakan pemerintahan. Pada tahun 1972, ia menerbitkan tulisan Dasar-dasar Pemikiran tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun yang selanjutnya diterima MPR sebagai strategi pembangunan jangka panjang (PJP).




 

 

Sasaki Kojiro Sang Maestro Pedang Dari Jepang

 Sasaki Kojiro atau dikenal juga sebagai Ganryu Kojiro ialah seorang ahli pedang dari jepang yang hidup di Zaman Sengoku hingga awal Zaman Edo. Sasaki Kojiro lahir pada tahun 1575 di prefektur bagian Fukui, Jepang. Ia di anggap sebagai master dalam bidang pedang bahkan ia sampai dibuatkan monumennya setelah kematiannya. Kita dapat menemukan monumen Sasaki Kojiro di Kikko Park. Selain dibuatkan monumen Saski Kojiro juga sering menjadi refrensi karakter di beberapa Anime buatan negara Jepang.

Senjata andalan Sasaki Kojiro adalah Nodachi bermata lurus yaitu sejenis pedang panjang yang berukuran 90cm. Dengan menggunakan Nodachi sasaki Kojiro pada tahun 1605 mengembangkan teknik yang bernama Tsubame Gaeshi atau Turning Swalow Cut. Tekhnik ini terinspirasi oleh burung layang yang dengan indah bisa meliuk - liuk. Pedang Nodachi Sasaki Kojiro diberi nama Monohoshizao atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia memiliki arti Alat Penggantung jemuran.

Saski Kojiro awalnya belajar ilmu pedang kepada Kanemaki Jisai atau Toda Seigen. Kehebatan Kojiro mulai terlihat setelah ia berhasil mengalahkan adik gurunya. Ia mendirikan Dojo atau tempat latihan sendiri yang mengajarkan aliran kenjutsu. Melalui banyak pertarungan membuat ia semakin terkenal yang membuat dojonya semakin banyak memiliki murid yang berkupul karena takjub dengan ilmu berpedang Kojiro. dengan populernya dojo milik Sasaki Kojiro dan banyaknya duel yang dimenangkan olehnya maka ia diberikan gelar kehormatan Hosokawa Tadaoki.

Setelah melewati banyak pertarungan dengan banyak pendekar pedang terkenal. Sasaki Kojiro memiliki musuh bebuyutan atau rival abadi seorang Ronin yang bernama Miyamoto Musashi. Kojiro Sasaki dan Miyamot Musashi sudah banyak melalui pertempuran hebat. Duel terakhir mereka terjadi pada 13 April 1612 di Pulau Ganryu. Banyak gosip tentang pertarungan terakhir antara Sasaki dan Musashi. Ada versi mengatakan Miyamoto Musashi sengaja datang terlambat hingga 3 jam. Hal ini membuat Sasaki Kojiro kesal sehingga dengan mudah Musashi bisa memprovokasi Sasaki untuk melakukan serangan pertama yang sembrono sehingga Musashi bisa menghindari serangannya dan melakukan serangan balasan. Hal ini masih menjadi perdebatan apakah Miyamoto Musashi memenangkan duel dengan adil dan terhormat.

Source : Sasaki Kojirō - Wikipedia


Sorce : Sasaki-Ganryu-(Kojiro)-by-Utagawa-Kuniyoshi-1845.png (1112×1600) (wikimedia.org) 

 




 

Jumat, 22 Maret 2024

PENDEKAR WANITA TIONGKOK DARI DINASTI SONG DI ACEH

 


TIDAK tahu persis apakah Putrou Neng selincah pendekar wanita bibi Lung atau pendekar wanita berjulukan angsa putih di serial kungfu 80an.
Tapi bagi seantero penduduk Aceh - terutama di kampung Blang Pulo, Aceh Utara. Pendekar wanita dengan sebutan Panglima Putrou Neng ini cukup terkenal.
Di samping mempunyai cerita yang bukan main dan lain dari yang lain. Nama aslinya: Nian Niko Kian Khi. Pendekar wanita asal Tiongkok ini bersama 2.000 orang pasukannya berlayar menuju selatan.
Berlabuhlah dia kemudian di pesisir timur Aceh. Berhasil menaklukkan beberapa daerah di tepi pantai, Kian Khi akhirnya menguasai kerajaan Lamuri di Aceh Besar dari tahun 1050 -1069 masehi.
Daerah kekuasaannya semakin besar, Kian Khi akhirnya menetap di Blang Pulo dan membuat basis pertahanannya di Blang Lancang.
Tempat terakhir ini kini terkenal sebagai proyek LNG. Itu Janda Muda Dikabarkan pula ketika Putrou Neng menginginkan daerah kekuasaan yang lebih luas lagi lalu menyerbu kerajaan Peureulak di Aceh Timur, kali ini ia terpaksa harus menundukkan kepalanya pada Panglima Syeh Abdullah Kan'an. Kemudian Syeh yang baik hati itu mengajak damai si pendekar wanita tersebut. Dari panglima Peureulak inilah kemudian Kian Khi diberi gelar Panglima Putrou Neng. Dia kemudian menetap di Blang Pulo. Hidup tenang dan lebih jinak. Karena dia rupawan, tidaklah heran jika begitu banyak putera Aceh tergila-gila padanya.
Sadar bahwa dia cantik, Putrou Neng mengajukan beberapa syarat berat. Bahwa siapa-siapa yang ingin memperisterinya, harus membawa mas kawin seguci besar. Syarat ini rupanya bukan jadi halangan bagi pemuda Aceh saat itu, terutama kaum bangsawannya. Kabarnya banyak yang berlomba untuk mempersuntingnya. Dari sekian banyak yang antri, yang beruntung adalah seorang pemuda tampan. Meurah Johan namanya, putera Raja Adi Gaunali dari kerajaan Lingga, Aceh Tengah. Tanggal dan pesta besar pun ditetapkan harinya.
Alkisah, Meurah Johan yang disangka bernasib untung, tertimpa nasib buntung. Ketika dia akan mengecap manisnya malam pengantin, kesialan telah melandanya. Keesokan hari. orang banyak gempar. Meurah Johan kedapatan kaku tubuhnya sudah, di atas pelaminan pengantin. Kematiannya cukup misterius dan mereka yang memandikan tubuh Meurah Johan mendapatkan bahwa kemaluan Meurah Johan jadi kebiru-biruan.
Mungkin karena saat itu belum ada cara bedah mayat, Meurah Johan dikuburkan secara besar-besaran, sama seperti sehari dia dikukuhkan jadi suami Pitrou Neng. Bisik-bisik tentang kematian Meurah Johan segera lenyap, ketika mata orang banyak dialihkan ke si janda muda, Putrou Neng. Begitu ada lamaran yang berkenan di hatinya, tentu dengan syarat yang harus dipenuhi, menikahlah Putrou Neng. Kasus seperti Meurah Johan segera terulang lagi: pengantin laki meninggal di tempat tidur pengantin dan itunya tetap berwarna kebiru-biruan. Anehnya, toh banyak pemuda yang tidak kapok.
Mungkin Putrou Neng cantik sekali, atau dia punya aji-aji untuk menaklukkan hati lelaki atau mungkin pula Aceh - waktu itu -- kekurangan orang cantik. Pokoknya, dikabarkan bahwa jumlah pemuda (kebanyakan anak Raja) sudah mencapai 99 orang. Singkit cerita, majulah pemuda yang ke-100 . Dia adalah seorang syeh asal Gujarat, India. Syeh Hudam, demikianlah namanya, berhasil mempersunting Putrou Neng. Artinya syeh bisa hidup terus dan tidak mengalami kematian seperti 99 suami semalam sang pendekar wanita.
Apa gerangan rahasia manjur dari Syeh Hudam? upanya dia telah menyelidiki kasus demi kasus pemuda yang menikahi Putrou Neng. Dengan kepala dingin (dan nafsu tetap di dada), Syeh Hudam pasang kupihg sambil tanam mata-mata untuk menyelidiki cerita rakyat yang tinggal di sekitar puri sang janda yang berbisik bahwa Putrou Neng di rambut alat vitalnya memelihara kalajengking. Pantaslah! Karuan saja, 99 orang pemuda yang kena sengat alat vitalnya jadi meninggal. Dan Syeh Hudam yang berkepala dingin dan bisa mengatur siasat mempunyai akal.
Ibu jarinya dia beri minyak anti bisa. Pendek cerita, sang kalajengking yang melekat di jempol Syeh Hudam mendapatkan ajalnya. Syeh dari Gujarat ini selamat dan hidup terus. Malam-malam yang aman dan nyaman ada di tangan Syeh Hudam. Kabarnya, kalajengking ini adalah binatang piaraan Putrou Neng, agar sewaktu-waktu dia kalah, kalau hendak diperkosa, lawannya akan meninggal di arena ranjang kenikmatan. Biarpun si lawan menang di medan peperangan.
Taktik lain untuk mengalahkan musuh-musuh Kian Khi. Anehnya, begitu kalajengkingnya meninggal, Putrou Neng jadi wanita yang sakit-sakitan. Usia yang sudah tua? Entahlah. Pendek kata, isteri Syeh Hudam akhirnya meninggal tanpa mendapatkan turunan. Kuburannya kini masih ada.
Di Blang Lancang, di desa Blang Pulo, di tepi jalan masuk proyek LNG kini. Orang daerah itu menatakan bahwa kuburan lain yang turut meramaikan nisan puteri Cina ialah suaminya yang berjumlah 99 orang. Kuburan Syeh Hudam sendiri hingga kini masih ada. Dia tidak dikuburkan di dekat Putrou Neng. Tapi di sebuah bukit di Blang Pulo.