Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2024

6 Negara yang Ibu Kota-nya Pernah "Angkat Kaki"

 6 Negara yang Ibu Kota-nya Pernah "Angkat Kaki", Menyusul Indonesia



Berbicara kepindahan ibu kota negara, Indonesia sebenarnya pernah berada di Yogyakarta tapi hanya sementara (tidak secara resmi, pada 4 Januari 1946) lalu Batavia berubah nama menjadi Jakarta dan kini Nusantara secara resmi akan menjadi ibu kota Indonesia yang ke dua.

Alasan beberapa ibu kota negara angkat kaki dan pindah tempat menurut saya bisa jadi karena : Perihal kemacetan dan kepadatan penduduk, adanya resiko bencana alam, situasi politik, keamanan, ketimpangan pembangunan, pengurangan beban yang bersifat administratif dan strategi jangka panjang.

Nah, beberapa negara selain Indonesia dibawah ini juga telah melakukan perpindahan ibu kota-nya bahkan lebih dari 3 kali, yaitu:

Beberapa negara yang ibu kota-nya telah pindah lebih dari tiga kali adalah:

Jerman
Sebelum Berlin menjadi ibu kota pasca-Perang Dunia II, ibu kotanya berpindah dari Aachen (pada masa Kekaisaran Romawi Suci), ke Bonn (selama era Jerman Barat), dan kemudian ke Berlin.

Brazil
Ibu kota Brazil berpindah dari Salvador ke Rio de Janeiro, dan akhirnya menetap di Brasília, yang dibangun khusus untuk memindahkan ibu kota ke pusat negara.

Nigeria
Ibu kota Nigeria berpindah dari Lagos ke Abuja. Sebelumnya, ibu kotanya adalah Calabar, dan juga pernah di Lagos sebelum akhirnya pindah dan betah di Abuja.

Kongo
Ibu kota Kongo, berpindah dari Boma ke Léopoldville (sekarang disebut Kinshasa), dan kemudian ke Brazzaville tapi kembali lagi ke Kinshasa setelah mereka merdeka.

Kazakhstan
Ibu kota Kazakhstan, pernah berpindah dari Almaty ke Astana (sekarang Nur-Sultan), yang sebelumnya dikenal sebagai Akmolinsk, Tselinograd, dan Nur-Sultan.

Terakhir ada Paris, Perancis (sejak 987 M) yang pindah ke Vichy (1940-1944, selama Perang Dunia II sebagai ibu kota pemerintahan Vichy) dan akhirnya kembali lagi ke Paris (setelah Perang Dunia II). 

 


 

Senin, 26 Agustus 2024

Bagaimana Bangsa Israel Kuno Terbentuk?

 


Bagaimana Bangsa Israel Kuno Terbentuk?Haaretz
(Ilustrasi) Orang Yahudi





Intisari-Online.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana bangsa Israel kuno terbentuk?
Apakah bangsa Israel awal mencapai Kanaan dari hutan belantara timur dengan menyeberangi Sungai Yordan di seberang Yerikho, seperti yang dikatakan dalam Kitab Yosua?
Atau apakah orang Israel adalah penduduk asli dari Kanaan?
Sejauh ini, tidak ada bukti arkeologis yang pernah ditemukan tentang migrasi orang Israel dari hutan belantara Sinai melalui Lembah Yordan ke tanah subur Kanaan, seperti yang dijelaskan dalam Alkitab.
Juga tidak ada bukti pertempuran sengit yang dikatakan orang Israel, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Yosua, dengan penduduk setempat, baik di Yerikho atau di tempat lain.
Tidak aneh bahwa orang yang bermigrasi tidak akan meninggalkan bukti.

Bagaimana Bangsa Israel Kuno Terbentuk?The Jordan Valley Excavation Project
Peta

Namun, para arkeolog telah reruntuhan aneh yang sebelumnya ditemukan di bagian-bagian Lembah Jordan.
Berharap membuktikan atau membantah teori yang disarankan oleh almarhum arkeolog Prof. Adam Zertal dari Universitas Haifa:
"Bahwa struktur batu yang ditemukan di sana dibangun oleh orang Israel kuno sebagai reruntuhan selama mereka perlahan-lahan menyeberang ke Kanaan 3.200 tahun yang lalu."
Menariknya, jika orang Israel memang membangun struktur ini, mereka mungkin melakukannya bukan untuk melindungi diri sendiri tetapi ternak mereka.
Struktur yang Anehnya Kosong

Bagaimana Bangsa Israel Kuno Terbentuk?
The Jordan Valley Excavation Project
Tempat orang Israel berkemah saat perjalanan menuju Kanaan


Seluruh wilayah Lembah Jordan di utara Jericho sangat menyedihkan.
Tidak ada tanda-tanda tempat tinggal manusia ditemukan di dalam struktur batu, dengan pengecualian batu penggiling biji-bijian.
Para arkeolog berharap untuk melihat apakah "rumah" ini benar-benar menampung kambing dan sejenisnya dengan analisis kimia tanah di dalamnya.
Secara teoritis, jika kotoran terkandung di dalamnya, tanah akan lebih kaya akan fosfor bahkan untuk ribuan tahun kemudian.

Singkatnya, pemukiman itu terisolasi secara topografis.
Namanya, Mastarah, berarti "tersembunyi" dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani.
Menemukan lokasi pemukiman baru yang tidak berdekatan dengan sumber air atau rute darat utama dan tersembunyi dari lingkungannya adalah hal yang sangat tidak biasa.
Ini bisa menyiratkan bahwa penghuninya adalah populasi baru di wilayah tersebut, mungkin bersembunyi dari populasi lokal yang bermusuhan.
Jadi mungkin saja bangsa Israel kuno datang dari padang belantara, menyeberangi Lembah Yordan dan kemudian tinggal sebentar.
Orang Israel yang lelah dapat beristirahat, bahkan untuk satu atau dua generasi, membangun kekuatan dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kanaan.
Tempat Tinggal yang Mengerikan

Bagaimana Bangsa Israel Kuno Terbentuk?The Jordan Valley Excavation Project
Tempat orang Israel berkemah saat perjalanan menuju Kanaan

Lembah Jordan terbentang di sepanjang Transformasi Laut Mati.
Membentang lebih dari 100 kilometer dari Laut Mati ke Danau Galilea, lembah itu panjang, sempit, dalam, panas, dan kering.
Suhu di Lembah Jordan dapat dengan mudah mencapai 45 derajat Celcius di musim panas dan curah hujan tahunan sangat buruk, sekitar 100 hingga 200 milimeter setahun.
Karena itu, para arkeolog berasumsi bahwa, dengan opsi lain, orang tidak akan memilih untuk menetap di Lembah Yordan, kecuali di tempat-tempat yang dipenuhi oasis.
Namun survei yang cermat terhadap 1.000 mil persegi bagian barat lembah, yang dipimpin oleh Zertal dan timnya sejak tahun 1978 dan seterusnya, menemukan sisa-sisa ratusan permukiman kuno di Lembah Jordan.
Belum ada tanda-tanda identitas pembangun yang ditemukan.
Satu-satunya alasan untuk mengaitkan struktur di lembah yang tidak ramah kehidupan adalah lokasi dan perkiraan waktu mereka.

https://intisari.grid.id/read/033395...-lalu?page=all

Senin, 15 Juli 2024

Harta karun Majapahit

 


Sering kali menjadi subjek legenda dan cerita rakyat di Indonesia. Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling makmur dalam sejarah Indonesia, yang berdiri dari abad ke-13 hingga abad ke-16. Cerita tentang harta karun Majapahit menggambarkan kekayaan luar biasa yang dimiliki oleh kerajaan ini. Namun, keberadaan harta karun ini sebagai entitas fisik yang masih ada hingga saat ini belum dapat dipastikan dan sering kali berada dalam ranah spekulasi dan mitos.
Faktor yang Mendukung Keberadaan Harta Karun Majapahit
Kemakmuran Kerajaan:
Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang sangat makmur dengan pengaruh besar di seluruh Nusantara. Kerajaan ini terlibat dalam perdagangan internasional, sehingga kekayaan kerajaan, termasuk emas, perak, dan barang berharga lainnya, sangat besar.
Artefak dan Temuan Arkeologis:
Banyak peninggalan arkeologis dari era Majapahit yang telah ditemukan, termasuk candi, patung, dan peralatan dari logam mulia. Temuan ini menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki kekayaan material yang signifikan.
Faktor yang Membuat Keberadaan Harta Karun Diragukan
Kurangnya Bukti Fisik:
Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret atau penemuan besar yang mengkonfirmasi keberadaan harta karun Majapahit seperti yang digambarkan dalam legenda. Banyak cerita tentang harta karun ini berasal dari tradisi lisan dan kurang didukung oleh bukti arkeologis.
Plundering dan Kehancuran:
Seiring dengan kejatuhan Majapahit, kekayaan kerajaan kemungkinan besar dijarah atau tersebar. Invasi, perang, dan penjarahan bisa menyebabkan harta kerajaan berpindah tangan atau hilang.
Mitos dan Legenda:
Seperti halnya banyak kerajaan kuno lainnya, legenda harta karun sering kali diperbesar oleh cerita rakyat dan mitos. Ini membuat sulit untuk membedakan antara fakta dan fiksi.
Kesimpulan
Harta karun Majapahit, seperti yang sering digambarkan dalam cerita rakyat dan legenda, masih belum ditemukan dan keberadaannya tidak dapat dipastikan. Meskipun Majapahit adalah kerajaan yang sangat kaya, bukti fisik dari harta karun yang besar dan tersembunyi belum ditemukan oleh para arkeolog atau peneliti.
Cerita-cerita ini lebih mungkin menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kekayaan dan kemegahan Majapahit daripada harta yang benar-benar ada yang menunggu untuk ditemukan.



Sabtu, 13 Juli 2024

Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an

 


Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an
29 Oktober 1929, 90 tahun silam, sebuah bencana ekonomi yang akan menjadikan 1930-an sebuah dekade penuh nelangsa dan akhirnya membuka jalan menuju Perang Dunia II mencapai klimaksnya. Hasil dari boomingperekonomian selama delapan tahun mencapai titik leburnya. Sejarah kini mencatat peristiwa itu seperti Black Tuesday. Akar dari problem ini dapat ditelusuri hingga sembilan tahun sebelumnya, saat sebuah periode depresi singkat berlangsung.

Klik gambar untuk menuju sumber gambar

Latar Belakang
Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an
Tentara AS yang kembali dari perang di Eropa, 1919. Penambahan 1,5 juta tentara ini ke angkatan kerja sipil membuat persaingan kerja semakin ketat dan menjadi salah satu faktor penyebab Depresi 1920-21.

Setelah Perang Dunia I berakhir, ekonomi AS mengalami transisi dari ekonomi masa perang ke ekonomi masa damai. Permintaan persenjataan, penopang utama peningkatan produksi manufaktur AS dan perekonomian yang bertumbuh selama perang, berhenti.

Penurunan tingkat produksi memiliki konsekuensi pengurangan jumlah tenaga kerja yang terserap dan mengetatkan persaingan untuk mencari kerja.

Persaingan di angkatan kerja pun bertambah ketat dengan masuknya tenaga kerja baru dari veteran Perang Dunia I yang kembali ke kehidupan sipil. Pada 1918, ada 2,9 juta orang yang bertugas di militer AS. Tahun 1919, angka ini menurun ke 1,5 juta dan tahun berikutnya menjadi 380 ribu. Ini berarti, dalam kurun 2 tahun, ada 2,52 juta tentara yang kembali masuk ke angkatan kerja. Pada 1920 saja, ada 1,6 juta tenaga kerja baru ke angkatan kerja AS. Dengan industri yang melesu dan tidak dapat menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut, jumlah pengangguran pun meningkat. Serikat buruh juga mengalami pelemahan.

Petani, yang pada masa perang mendapatkan penghasilan besar dari diserapnya produk mereka oleh pemerintah untuk dikirim sebagai konsumsi tentara di garis depan di Eropa, kini harus menghadapi keadaan baru. Pemerintah tak lagi membeli produk mereka dalam jumlah besar karena perang sudah berakhir. Harga produk pertanian menurun, begitu pula penghasilan para petani. Mereka juga terbebani dengan utang yang mereka ambil pada periode booming pertanian untuk membeli mesin terbaru untuk membantu menggenjot produksi guna memenuhi permintaan. Ini pun membuat sektor pertanian mengalami periode suram sepuluh tahun lebih awal dan lebih lama dari sektor ekonomi lainnya di AS.

Masyarakat dan kaum bisnis juga berekspektasi bahwa harga-harga secara umum akan menurun dan ini menjadi faktor penghambat konsumsi dan investasi.

Federal Reserve juga membuat kebijakan yang menyulitkan bisnis dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan sebagai respon terhadap inflasi pada periode Perang Dunia I dan tahun-tahun setelahnya. Pada Desember 1919, tingkat suku bunga acuan dinaikkan dari 4,75 persen menjadi 5 persen. Sebulan kemudian, angka ini dinaikkan ke 6 persen dan pada Juni ditingkatkan ke 7 persen. Ini tentu membuat bisnis sulit memperoleh kredit.

Standar Emas yang masih diterapkan AS saat itu juga berpengaruh. Pada masa perang, penciptaan kredit dan uang kertas meningkat drastis. Setelahnya, para nasabah mulai menukar uang kertas mereka ke emas untuk mengamankan nilai aset mereka. Ini pun membuat jumlah uang beredar menurun beriringan dengan turunnya simpanan emas bank sentral.

Kombinasi hal-hal di atas memicu periode resesi selama 18 bulan, berlangsung dari Januari 1920 hingga Juni 1921. Pada periode tersebut, menurut Departemen Perdagangan AS, tingkat produksi menurun 6,9 persen, tingkat harga menurun 18 persen, dan Produk Nasional Bruto menurun 6,9 persen.

Ini berdampak pada popularitas Presiden Woodrow Wilson. Wilson, yang saat itu telah sakit-sakitan dan gagal membuat AS bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa, bereaksi terhadap resesi dengan memotong anggaran belanja sebesar 20 persen dari 1920 ke 1921. Ini pun membuat pemerintah AS mencatat surplus anggaran belanja sebesar 509 juta dolar AS, meski pendapatan pajak menurun 16 persen pada saat yang sama, dan memungkinkan pemerintah AS mulai membayar utang yang dibuat pada masa Perang Dunia I. Kebijakan ini tidak populer di masyarakat karena membuat pertumbuhan ekonomi tetap mandek. Ini pun memungkinkan Warren Harding dari Partai Republik untuk memenangi kursi kepresidenan pada pilpres tahun 1920. Harding pun membuat kebijakan pemotongan tarif pajak untuk menstimulus kembali perekonomian. Tarif pajak untuk golongan berpenghasilan tinggi dipangkas, namun skema tarif pajak progresif dipertahankan. Anggaran belanja juga dipangkas dan ukuran pemerintah federal (jumlah pegawai federal) dikurangi.

Roaring Twenties
Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an
Suasana pesta di Amerika pada era Roaring Twenties. Setelah kegelapan memayungi selama setahun pada masa Perang Dunia I, Amerika menghadapi masa depan yang cerah di era 1920-an, setidaknya sampai 1929.

Periode depresi singkat Ini pun berakhir dan diikuti periode booming ekonomi di AS yang disebut Roaring Twenties. Periode ini berlangsung dari 1921 hingga 1929. Pada periode ini, ekonomi AS bertumbuh pesat. Kekayaan nasional meningkat 2 kali lipat.

Produksi barang konsumsi rumah tangga seperti pesawat radio meningkat pesat dan segera menjadi terjangkau bagi banyak orang di Amerika. Pada akhir 1920-an, 12 juta rumah tangga di AS memiliki perangkat radio sendiri. Kegiatan seperti menonton pertandingan baseball, menonton film, ataupun mendengarkan siaran radio menjadi hal yang umum dilakukan masyarakat perkotaan Amerika untuk mengisi waktu senggang.

Berlibur ke tempat jauh pun menjadi lebih mudah dengan terjangkaunya mobil. Untuk membeli mobil Model T produksi Ford hanya memerlukan 260 dolar AS pada 1924 (setara 3.603,64 dolar AS pada 2019). Ini masih ditambah dengan skema kredit yang membuat mobil semakin mudah diperoleh. Tak heran bila pada 1929, satu dari lima orang di AS memiliki mobil sendiri. Pertumbuhan pengguna mobil pun turut menumbuhkan usaha pendamping, misalnya pom bensin dengan layanan ekstra seperti restoran.

Dari sisi kebudayaan, musik jazz dan gaya bangunan Art Deco mendominasi era ini. Era ini juga kerap disebut sebagai Era Jazz.

Di pasar saham, terjadi euforia terhadap ekonomi yang melaju pesat. Orang-orang melirik saham sebagai bentuk baru tabungan dan investasi. Sebagian difasilitasi oleh keringanan pajak, sebagian oleh kredit perbankan yang murah. Indeks Dow Jones meningkat pesat selama periode ini, dari 63 pada Agustus 1921 menjadi 381 pada September 1929. Kredit yang mengucur deras untuk investasi saham ini nantinya akan menjadi masalah pelik bagi perbankan dan perekonomian AS.

Namun, era ini juga memiliki sisi gelapnya.

Sektor pertanian mengalami stagnasi karena penduduk desa banyak yang melakukan urbanisasi untuk mencari peruntungan yang lebih baik di kota dan karena turunnya harga produk pertanian akibat kelebihan produksi. Mereka juga terbebani oleh utang dan sebagian terpaksa menjadi petani penggarap untuk tuan tanah.

Amendemen ke-18, disahkan pada 1919 dan berlaku efektif per 16 Januari 1920, melarang produksi dan penjualan minuman dengan kadar alkohol melebihi 0,5 persen. Meskipun demikian, amendemen ini tidak melarang orang untuk mengonsumsi minuman keras. Segera, orang pun berusaha menumpuk persediaan minuman keras sebelum amendemen ini berlaku. Yang tidak bisa melakukannya harus berurusan dengan para pengecer minuman keras bawah tanah, yang tentu saja ilegal, ataupun kelompok mafia, yang menyediakan akses ke minuman keras yang tak mungkin didapatkan secara resmi di bar.

Kekerasan dan perilaku diskriminatif terhadap kelompok kulit hitam masih jamak terjadi. Pada 31 Mei hingga 1 Juni 1921, terjadi kerusuhan dan pembantaian di Tulsa, Oklahoma. Sekumpulan orang kulit putih menyerang kawasan pemukiman dan bisnis milik orang kulit hitam di Greenwood, Tulsa, yang dijuluki "Black Wall Street" karena daerah ini dihuni orang kulit hitam yang hidup mapan, tidak seperti kebanyakan orang kulit hitam di AS. Peristiwa ini disebabkan oleh dugaan pelecehan seksual oleh seorang pria kulit hitam pada seorang wanita kulit putih yang bekerja sebagai operator lift. Berita ini dimuat dalam sebuah surat kabar dan segera memancing kemarahan orang-orang kulit putih. Mereka menyerang pemukiman orang kulit hitam. 1.256 rumah rusak dan 215 rumah lainnya dijarah.

Organisasi supremasi kulit putih, Ku Klux Klan, bertumbuh kuat dan melancarkan aksi diskriminasi dan persekusi terhadap etnis minoritas, termasuk orang-orang kulit hitam.

29 Oktober 1929
Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an
Sebuah keluarga sedang beristirahat di depan mobil mereka di California, 1935.

Pada 1929, ekonomi AS sedang berada dalam fase overheating. Spekulasi berlebihan di pasar saham membuat harga saham melambung tinggi. Namun, ini tidak mencerminkan sepenuhnya keadaan ekonomi secara real. Ini pun memicu kondisi gelembung ekonomi, yang suatu saat pasti akan meletus.

Pada 3 September 1929, pasar saham mencapai rekor tertingginya setelah mengalami market bullish selama 8 tahun dengan kenaikan 396 persen sejak mencapai level nadir pada 1921. Pada September, harga saham mulai menurun. Penurunan berlanjut pada Oktober. Kejatuhan dimulai pada 18 Oktober dan mencapai puncaknya pada 24 Oktober 1929 yang dikenal sebagai Black Thursday. 12,8 juta lembar sahan diperdagangkan pada hari itu. Jumlah besar dari saham yang diperdagangkan ini tak lepas dari arus besar investor yang melakukan penjualan saham secara massal karena kekhawatiran bahwa kerugian akibat penurunan harga saham akan mereka alami. Benar saja, harga saham di Wall Street terjun bebas hari itu. Pada pembukaan perdagangan hari itu saja, indeks acuan sudah anjlok 11 persen. Begitu banyaknya saham yang diperdagangkan hingga mesin pencatat perdagangan tak mampu mencatat semuanya secara langsung dan informasi perdagangan yang dimiliki investor terlambat beberapa jam dari yang sedang terjadi menambah kepanikan dan kebingungan investor.

Investor dan bankir investasi besar berusaha mengatasi kepanikan dengan membeli saham dalam jumlah besar. Harga saham memang naik untuk sementara waktu. Namun, mereka kembali turun tajam pada 28 dan 29 Oktober 1929 yang dikenal sebagai Black Monday dan Black Tuesday. Pada 28 Oktober, indeks Dow Jones anjlok 12,8 persen dan pada 29 Oktober kembali merosot 11,7 persen. Upaya untuk meredakan kepanikan pasar oleh investor besar seperti Rockefeller dengan membeli saham dalam jumlah besar tidak berhasil mengembalikan kepercayaan pasar. Dalam 2 hari tersebut, nilai kapitalisasi pasar saham sebesar 30 miliar dolar AS (setara 440,76 miliar dolar AS pada 2019) lenyap. Ini adalah jumlah yang sangat besar kala itu. Sebagai perbandingan, anggaran belanja pemerintah AS tahun 1929 hanya 3,127 miliar dolar AS. Indeks Dow Jones mencapai level nadir pada 8 Juli 1932 dan butuh waktu lebih dari 25 tahun, sampai November 1954, bagi Dow Jones hanya untuk kembali ke posisi tanggal 3 September 1929.

Kemerosotan ekonomi pun melanda AS. Karena banyak investasi sahan gagal, beberapa bank mengalami insolvensi karena kredit macet sebab orang tak bisa memperoleh kembali investasinya bahkan untuk sekadar melunasi utangnya. Beberapa bank tak bisa menyediakan uang tunai bagi nasabahnya yang ingin melakukan penarikan tunai dan menutup kantornya. Apalagi kala itu, belum ada jaminan terhadap simpanan nasabah apabila bank dilikuidasi (penjaminan simpanan baru dimulai pada masa pemerintahan Franklin Delano Roosevelt) sehingga membuat orang ketakutan bahwa simpanannya akan lenyap bersamaan dengan runtuhnya bank.

Karena pasar saham jatuh, banyak orang membeli emas. Karena AS saat itu masih menerapkan Standar Emas, orang pun menukar dolar AS (yang masih menjadi uang komoditas yang dijamin emas sebagian) dengan emas yang harganya meningkat. Karena ini pula, jumlah uang yang bisa dicetak terbatas. Sebelum 1933, berdasarkan The Federal Reserve Act 1913, 40 persen dari jumlah uang yang dicetak The Fed harus disokong emas. Maka, jumlah uang yang dapat dicetak The Fed hanya dapat mencapai maksimal 250 persen dari nilai dolar ekuivalen dari cadangan emas yang dimiliki. Misalnya, The Fed memiliki cadangan emas sebesar 1 miliar ons emas dengan harga emas ditetapkan sebesar 20,67 dolar AS per ons. Maka, dengan cadangan emas senilai 20,67 miliar dolar AS, jumlah uang beredar yang dapat dicetak The Fed adalah sebesar 51,675 miliar dolar AS. Ini pun membatasi kemampuan The Fed menstimulasi ekonomi.

Nilai dolar AS pun menurun dan membuat The Fed mengetatkan kebijakan moneter dan mengurangi suplai uang, memperburuk keadaan dan membuat Depresi Besar berlangsung cukup lama. Karena suplai uang menurun, pabrik mengurangi kapasitas produksi dan mengurangi karyawan. Terjadilah peningkatan jumlah pengangguran di AS. Dari 4 juta pada 1930 menjadi 6 juta pada 1931. Puncaknya, pada 1933, 15 juta orang atau 25 persen dari angkatan kerja menganggur.

Pemerintahan Presiden Herbert Hoover bertindak minim dalam mengatasi pelemahan ekonomi karena ia masih yakin bahwa pasar akan mampu mengoreksi dan menyeimbangkan dirinya sendiri berdasarkan teori ekonomi klasik Adam Smith yang berkeyakinan bahwa "tangan tak terlihat" akan bekerja menyeimbangkan pasar. Namun, Hoover masih berusaha mengatasi pengangguran dengan proyek konstruksi besar seperti pembangunan Bendungan Hoover di perbatasan Nevada dan Arizona. Untuk menjaga anggaran tetap seimbang, Hoover menaikkan tarif pajak. Tarif pajak penghasilan tertinggi meningkat dari 25 persen pada 1929 menjadi 63 persen pada 1932. Namun, defisit anggaran pada 1932 tetap saja tinggi, 4,5 persen dari PDB, disebabkan oleh pendapatan pajak yang menurun dan meningkatnya pengeluaran pemerintah federal, juga karena ekonomi AS menyusut 20 persen antara 1929 dan 1932.

Presiden Hoover mengesahkan Hawley-Smoot Tariff Act pada 17 Juni 1930. UU ini menaikkan tarif bea impor masuk untuk lebih dari 20.000 jenis barang ke AS dan bertujuan melindungi petani dan industri di AS. Meski UU ini sudah dirancang, dibahas, dan disahkan Kongres pada paruh pertama 1929, sebelum Depresi dimulai, dampaknya terhadap Depresi sangat besar. Negara mitra dagang AS juga ikut menaikkan tarif bea impor produk dari AS dan membuat volume perdagangan dunia anjlok 70 persen antara 1929 dan 1932. Ini pun membuat angka pengangguran di AS dan negara Barat lainnya semakin tinggi karena kapasitas industri menurun. Negara-negara yang banyak mengekspor produk pertanian ke AS dan Eropa Barat terkena dampak yang besar karena permintaan produk mereka menurun dan harganya merosot.

Hoover digantikan oleh Franklin Delano Roosevelt yang memenangi pemilihan umum 1932. Roosevelt mengeluarkan kebijakan yang bertujuan mengatasi depresi, salah satunya adalah mengakhiri Standar Emas dan mewajibkan emas yang dimiliki penduduk AS untuk ditukar dengan uang kertas The Fed agar The Fed dapat menambah suplai uang untuk menstimulasi perekonomian pada tahun 1933. Perekonomian AS berangsur pulih, dengan masa resesi singkat pada 1937-38 ketika pemerintah AS mengurangi belanja dan The Fed mengetatkan kebijakan moneternya dan membuat PDB kembali menyusut. Kedatangan Perang Dunia II pada 1939 membuat efek Depresi di Eropa dan AS semakin menyusut dan akhirnya hilang sama sekali setelah perang berakhir.

Dampak Depresi
Depresi 1920-21, Roaring Twenties, dan Depresi Besar 1930-an
Adolf Hitler dalam reli NSDAP di Nuremberg, 1928. NSDAP memanfaatkan kesulitan ekonomi akibat Depresi Besar untuk menarik simpati rakyat Jerman dan akhirnya berkuasa pada 1933.

Dampak Depresi Besar yang paling utama adalah ditinggalkannya Standar Emas dan menguatnya ideologi ekstrem kanan di Eropa.

Negara-negara Eropa mulai meninggalkan Standar Emas pada masa Depresi. Inggris meninggalkan Standar Emas pada Desember 1931, sementara negara seperti Prancis, Belanda, dan Polandia tetap bertahan dengan Standar Emas untuk waktu yang lebih lama dan baru mulai meninggalkan Standar Emas pada 1936.

Depresi Besar 1930-an yang menerjang Eropa juga semakin menguatkan ideologi ekstrem kanan, terutama fasisme dan nazisme, terutama di Eropa Tengah. Di Jerman, Adolf Hitler dan NSDAP meraih peningkatan suara yang besar pada pemilu 1932 dibandingkan perolehan pada 1928. Ekstrem kanan juga menguat di Austria, Hongaria, dan Yunani.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar

 


Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Lukisan suasana pelabuhan Jepang saat sakoku.
Gambar: wikipedia.com
---------------


Sakoku(Kanji: 鎖国, "negara tertutup") adalah kebijakan luar negeri Keshogunan Tokugawa untuk menutup diri dari dunia luar. Periode ini berlangsung selama 220 tahun. Hubungan perdagangan Jepang dengan negara lain betul-betul dibatasi. Warga asing dilarang keras masuk ke Jepang, begitu pula warga Jepang sebisa mungkin tak usah melakukan perjalanan ke negara lain.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Tokugawa Iemitsu berkuasa dari tahun 1623 sampai 1651.
Gambar: wikipedia.com
---------------


Kebijakan ini diprakarsai oleh Tokugawa Iemitsu dengan sejumlah dekret dari 1633 sampai 1639. Istilah sakoku sebenarnya berasal dari era setelahnya, Sakoku-ron (Kanji: 鎖国論) sebuah naskah yang ditulis oleh seorang astronom dan penerjemah Jepang bernama Shizuki Tadao pada tahun 1801. Dia menemukan kata itu ketika menerjemahkan karya-karya musafir Jerman abad ke-17, Engelbert Kämpfer yang kebetulah pernah membahas Jepang.

Sakoku sesungguhnya tak sepenuhnya mengisolasi Jepang. Itu hanya sebuah sistem yang memperketat hubungan luar negeri Jepang dengan negara lain. Sebab di pelabuhan Nagasaki, Jepang tetap membuka pintu bagi kapal-kapal Tiongkok. Nagasaki juga menjadi tempat keberadaan pabrik VOC Belanda, tepatnya di Dejima yang menjadi satu-satunya pihak Barat yang ada di Jepang kala itu.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Dejima, Nagasaki yang menjadi lokasi pabrik VOC Belanda.
Gambar: wikipedia.com
---------------


VOC Belanda menjadi pintu pertukaran informasi Jepang dengan dunia luar sampai melahirkan istilah rangaku (Kanji: 蘭學, "pembelajaran Belanda"), kumpulan pengetahuan yang dihimpun dan dikembangkan oleh Jepang melalui Belanda. Kebanyakan berupa teknologi dan ilmu pengobatan Barat. Rangaku menjadi modal masyarakat Jepang belajar banyak aspek yang di masa depan sangat menentukan keberhasilan modernisasi Jepang. Tak heran hanya dalam beberapa tahun setelah menyudahi sakoku, Jepang menjelma menjadi kekuatan baru yang perlahan setara Barat.

Sejak abad ke-16, Jepang memang menjadi salah satu negara Asia yang menarik bagi penjelajah Barat. Pendaratan sekelompok orang Portugis di Pulau Tanegashima pada tahun 1542, menjadi kunjungan pertama orang Eropa ke Jepang. Dalam istilah Jepang periode ini bernama Nanban boeki (Kanji: 南蛮貿易, "perdagangan Nanban").

Berturut-turut bangsa Eropa lainnya juga datang, seperti Spanyol, Belanda, dan Inggris. Portugis yang fokus menyebarkan ajaran Kristen mengirim Franciscus Xaverius pada tahun 1549. Kampanye misionaris berjalan sukses. Pada awal abad ke-17, diperkirakan setengah juta orang Jepang telah memeluk agama Kristen (populasi Jepang saat itu sekitar 11 juta penduduk), termasuk beberapa daimyo (kepala keluarga berpengaruh) di Kyushu.

Fakta ini mulai menggoyang struktur sosial di Jepang, terutama ancaman bahwa Kristen berpotensi mengikis loyalitas para daimyo Kristen (lebih setia kepada gereja) yang sewaktu-waktu mungkin memberontak. Di saat yang sama, kabar buruk tentang penaklukkan Spanyol atas Filipina mulai tersebar. Tabiat orang Eropa yang gemar mendominasi mulai mengkhawatirkan para pejabat Jepang.

Kehadiran pedagang dan misionaris Portugis selama ratusan tahun harus berakhir pada tahun 1630-an saat Tokugawa Iemitsu mengusir semua orang Eropa melalui sejumlah dekret. Kebijakan menjadi sangat serius saat Tokugawa Iemitsu mengeksekusi dua orang utusan Portugis yang hendak bernegosiasi untuk memulihkan hubungan perdagangan luar negeri.

Dekret yang paling terkenal adalah Dekret Sakoku 1635 yang melarang kapal-kapal Jepang bepergian ke luar negeri. Tak main-main hukuman untuk pelanggaran adalah kematian. Dekret Sakoku 1635 juga mengadakan sayembara berupa hadiah mewah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi akurat tentang orang-orang Kristen yang mempraktikkan dan menyebarkan ajarannya di seluruh Jepang.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Dekret Sakoku 1635 melarang praktik dan penyebaran agama Kristen di Jepang.
Gambar: animoapps.com
---------------


Hal ini menyebabkan Pemberontakan Shimabara (1637-1638) yang dilakukan sekitar 40.000 petani yang sebagian besar beragama Kristen. Pemberontakan dipimpin oleh petani Katolik bernama Amakusa Shiro karena ketidakpuasan atas kebijakan Matsukura Katsuie, daimyo Shimabara yang melarang keras ajaran Kristen dan menaikkan pajak untuk pembangunan istana baru.

Perang berakhir dengan kekalahan pihak pemberontak. Amakusa Shiro dan 37.000 pengikutnya dieksekusi dengan pemenggalan kepala, sedangkan orang-orang Portugis yang membantu pemberontak diusir dari Jepang. Sementara itu, Matsukura Katsuie juga dieksekusi pemenggalan kepala atas tuduhan kesalahan kebijakan. Dia menjadi satu-satunya daimyo yang dieksekusi selama Periode Edo.

Pemberontakan Shimabara (1637-1638) juga menjadi konflik sipil terbesar selama Periode Edo. Padahal era Keshogunan Tokugawa relatif damai tanpa kesuruhan serius.

Selama penerapan sakoku, beberapa kali Barat mencoba masuk ke Jepang. Pada tahun 1647, beberapa kapal perang Portugis mencoba masuk ke pelabuhan Nagasaki. Keshogunan Tokugawa sampai harus membentuk barikade dari 900 kapal untuk menghentikan armada Portugis. Lalu pada tahun 1738, Angkatan Laut Rusia mendarat di Honshu, tepatnya di pantai cantik yang saat ini menjadi bagian dari Taman Nasional Rikuchu Kaigan. Para pelaut Rusia disambut baik oleh penduduk setempat karena berlaku sopan.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut AS mendarat di Jepang.
Gambar: shopassignment.com
---------------


Silih berganti kapal-kapal Barat singgah, tapi tetap ditolak Jepang. Puncaknya adalah ketika pada tanggal 8 Juli 1853, Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut AS dengan empat kapal perang: Mississippi, Plymouth, Saratoga, dan Susquehanna berlayar ke Teluk Edo, Tokyo. Dia mengancam dengan kekuatan militer dan menuntut Jepang agar membuka diri bagi kurofune (Kanji: 黒船, "kapal hitam" atau kapal-kapal Barat).

Tahun berikutnya, Komodor Perry kembali dengan tujuh kapal dan memaksa Jepang duduk di Konvensi Kanagawa (1854) yang menjadi perjanjian damai pertama antara Keshogunan Tokugawa dengan Amerika Serikat. Diikuti oleh Inggris yang juga memaksa Jepang menandatangani Perjanjian Persahabatan Anglo-Jepang (1854), serta Rusia lewat Perjanjian Shimoda (1855).

Dalam jangka waktu lima tahun, Jepang telah menandatangani beberapa perjanjian serupa dengan negara-negara Barat lainnya. Dengan kata lain era sakoku telah berakhir. Untuk menyesuaikan diri dengan Barat, Keshogunan Tokugawa meneruskan rangaku, namun kali ini langsung ke sumbernya. Beberapa misi dikirim ke luar negeri untuk belajar tentang peradaban Barat. Bukan cuma Belanda, tapi semua negara yang sekiranya bisa memenuhi hasrat Jepang akan ilmu pengetahuan.

Sakoku, Saat Jepang Menutup Diri dari Dunia Luar
Lukisan para perempuan Jepang sedang belajar menjahit dengan mesin.
Gambar: inquiriesjournal.com


Selasa, 09 Juli 2024

KUDA TROYA RAHASIA DI BALIK KUDA RAKSASA

 



Kisah Kuda Troya berasal dari mitologi Yunani, khususnya dalam epik "Iliad" karya Homer dan lebih rinci dalam "Aeneid" karya Virgil. Kuda Troya adalah bagian dari cerita tentang Perang Troya, di mana orang-orang Yunani menggunakan kuda kayu raksasa untuk menyelinap ke dalam kota Troya dan mengalahkan penduduknya.
Sementara kisah ini memiliki elemen mitos yang kuat dan tidak ada bukti arkeologis langsung yang membuktikan keberadaan Kuda Troya, Perang Troya itu sendiri mungkin didasarkan pada konflik nyata antara bangsa-bangsa Yunani dan kota Troya di Anatolia (modern-day Turkey) sekitar abad ke-12 atau 13 SM. Jadi, meskipun elemen Kuda Troya mungkin fiksi atau mitos, itu didasarkan pada peristiwa sejarah yang mungkin terjadi.
LATAR BELAKANG
Perang Troya terjadi karena penculikan Helen, istri raja Sparta Menelaus, oleh Paris, pangeran Troya. Menelaus dan saudaranya Agamemnon memimpin pasukan Yunani untuk menyerbu Troya, dan perang berlangsung selama sepuluh tahun tanpa hasil yang jelas.
KUDA TROYA
Setelah bertahun-tahun perang tanpa kemenangan yang signifikan, orang-orang Yunani memutuskan untuk menggunakan tipu daya. Mereka membangun kuda raksasa dari kayu yang kosong di dalamnya, yang dikenal sebagai Kuda Troya. Kuda ini adalah persembahan untuk dewa Athena, sebagai tanda permohonan agar mereka diberi keselamatan dalam perjalanan pulang.
Pasukan Yunani pura-pura meninggalkan Troya, berpura-pura menyerah, dan meninggalkan kuda kayu besar di luar tembok kota. Orang-orang Troya, yang melihat pasukan Yunani pergi, mengira bahwa mereka telah memenangkan perang dan kuda itu adalah tanda perdamaian atau persembahan kepada para dewa. Mereka membawa kuda itu ke dalam kota sebagai tanda kemenangan.
MALAM PENGKHIANATAN
Pada malam hari, ketika orang-orang Troya sedang tidur setelah merayakan kemenangan, sekelompok prajurit Yunani yang bersembunyi di dalam kuda itu keluar dan membuka gerbang kota bagi pasukan Yunani yang kembali. Pasukan Yunani menyerbu masuk dan menghancurkan kota Troya, membawa kehancuran dan menandai akhir perang.
MAKNA & PENGARUH
Kisah Kuda Troya telah menjadi simbol dari tipu daya dan strategi dalam peperangan. Ungkapan "Kuda Troya" sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tampaknya menguntungkan tetapi sebenarnya berbahaya dan digunakan untuk mengelabui.
Legenda ini juga menunjukkan pentingnya kecerdasan dan strategi dalam peperangan, bukan hanya kekuatan fisik. Hingga saat ini, kisah Kuda Troya tetap menjadi bagian penting dari literatur klasik dan sering diadaptasi dalam berbagai bentuk seni dan media.
Sumber referensi
1. **Homer, "Iliad"**: Salah satu sumber utama tentang Perang Troya, meskipun kisah tentang Kuda Troya lebih rinci dalam karya lain.
2. **Virgil, "Aeneid"**: Buku II dari "Aeneid" memberikan gambaran yang lebih rinci tentang Kuda Troya dan kehancuran kota Troya.
3. **Quintus Smyrnaeus, "Posthomerica"**: Menyediakan informasi tambahan tentang peristiwa setelah "Iliad", termasuk kisah Kuda Troya.
4. **Apollodorus, "Library"**: Mengumpulkan berbagai mitos Yunani termasuk kisah Kuda Troya.


MANJANIK MESIN PERANG ABAD PERTENGAHAN


 


Manjanik, juga dikenal sebagai trebuchet, adalah mesin pengepungan yang digunakan pada Abad Pertengahan untuk melontarkan proyektil besar ke arah dinding pertahanan musuh. Manjanik bekerja berdasarkan prinsip tuas dan keseimbangan, dengan lengan panjang yang diayunkan oleh bobot yang berat untuk menghasilkan energi lontaran.
SEJARAH MANJANIK
1. Asal-Usul dan Evolusi :
- Abad Pertama Masehi : Manjanik awalnya berkembang dari mesin perang Romawi yang lebih sederhana seperti balista dan onager.
- Abad Ke-12 : Versi canggih manjanik, yang dikenal sebagai trebuchet, mulai digunakan di Eropa. Mesin ini memiliki dua jenis utama: trebuchet dengan tenaga manusia (man-powered) dan trebuchet dengan kontra-bobot (counterweight).
2. Desain dan Mekanisme :
- Trebuchet dengan Tenaga Manusia : Menggunakan beberapa orang yang menarik tali untuk menciptakan daya lontar.
- Trebuchet dengan Kontra-Bobot : Menggunakan berat yang ditempatkan pada satu ujung lengan untuk menciptakan daya lontar ketika berat itu jatuh.
PENGGUNAAN DALAM PERANG POPULER
1. Pengepungan Akko (1189-1191):
- Perang Salib Ketiga : Salah satu pengepungan paling terkenal di mana manjanik digunakan secara ekstensif oleh pasukan Salib untuk menembus pertahanan kota Akko yang dikendalikan oleh Muslim. Trebuchet digunakan untuk menghancurkan tembok kota dan menyebabkan kerusakan besar.
2. Pengepungan Konstantinopel (1204) :
- Perang Salib Keempat : Trebuchet digunakan oleh pasukan Salib untuk menaklukkan ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Penggunaan trebuchet membantu pasukan Salib menembus dinding pertahanan yang kuat dan akhirnya merebut kota.
3. Pengepungan Stirling Castle (1304) :
- Perang Kemerdekaan Skotlandia : Raja Edward I dari Inggris menggunakan sebuah trebuchet besar yang dinamai "Warwolf" untuk menyerang Stirling Castle. Trebuchet ini terkenal karena ukuran dan kekuatannya yang luar biasa.
4. Pengepungan Orléans (1428-1429) :
- Perang Seratus Tahun : Trebuchet digunakan oleh pasukan Inggris selama pengepungan Orléans, meskipun akhirnya mereka gagal mempertahankan pengepungan tersebut berkat kedatangan Jeanne d'Arc dan pasukan Prancis yang mengangkat pengepungan.
Manjanik adalah contoh teknologi militer yang mengubah cara perang dikepung pada Abad Pertengahan, memungkinkan pasukan untuk menyerang benteng dengan lebih efektif dan strategis.
Sumber referensi
1. Primary Sources:
- Manuskrip sejarah dari Abad Pertengahan yang mencatat pengepungan dan penggunaan mesin perang, seperti "Chronica Majora" oleh Matthew Paris.
- Kronik-kronik Perang Salib seperti karya William of Tyre, yang mendokumentasikan pengepungan Akko dan peristiwa penting lainnya.
2. Secondary Sources:
- "The Art of War in the Middle Ages" oleh C.W.C. Oman.
- "Siege Weapons of the Far East (1): AD 612-1300" oleh Stephen Turnbull, "Medieval Siege and Siegecraft" oleh Geoffrey Hindley, Encyclopedia Britannica - Trebuchet, National Geographic dan berbagai sumber lain.