Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2024

MANJANIK MESIN PERANG ABAD PERTENGAHAN


 


Manjanik, juga dikenal sebagai trebuchet, adalah mesin pengepungan yang digunakan pada Abad Pertengahan untuk melontarkan proyektil besar ke arah dinding pertahanan musuh. Manjanik bekerja berdasarkan prinsip tuas dan keseimbangan, dengan lengan panjang yang diayunkan oleh bobot yang berat untuk menghasilkan energi lontaran.
SEJARAH MANJANIK
1. Asal-Usul dan Evolusi :
- Abad Pertama Masehi : Manjanik awalnya berkembang dari mesin perang Romawi yang lebih sederhana seperti balista dan onager.
- Abad Ke-12 : Versi canggih manjanik, yang dikenal sebagai trebuchet, mulai digunakan di Eropa. Mesin ini memiliki dua jenis utama: trebuchet dengan tenaga manusia (man-powered) dan trebuchet dengan kontra-bobot (counterweight).
2. Desain dan Mekanisme :
- Trebuchet dengan Tenaga Manusia : Menggunakan beberapa orang yang menarik tali untuk menciptakan daya lontar.
- Trebuchet dengan Kontra-Bobot : Menggunakan berat yang ditempatkan pada satu ujung lengan untuk menciptakan daya lontar ketika berat itu jatuh.
PENGGUNAAN DALAM PERANG POPULER
1. Pengepungan Akko (1189-1191):
- Perang Salib Ketiga : Salah satu pengepungan paling terkenal di mana manjanik digunakan secara ekstensif oleh pasukan Salib untuk menembus pertahanan kota Akko yang dikendalikan oleh Muslim. Trebuchet digunakan untuk menghancurkan tembok kota dan menyebabkan kerusakan besar.
2. Pengepungan Konstantinopel (1204) :
- Perang Salib Keempat : Trebuchet digunakan oleh pasukan Salib untuk menaklukkan ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Penggunaan trebuchet membantu pasukan Salib menembus dinding pertahanan yang kuat dan akhirnya merebut kota.
3. Pengepungan Stirling Castle (1304) :
- Perang Kemerdekaan Skotlandia : Raja Edward I dari Inggris menggunakan sebuah trebuchet besar yang dinamai "Warwolf" untuk menyerang Stirling Castle. Trebuchet ini terkenal karena ukuran dan kekuatannya yang luar biasa.
4. Pengepungan Orléans (1428-1429) :
- Perang Seratus Tahun : Trebuchet digunakan oleh pasukan Inggris selama pengepungan Orléans, meskipun akhirnya mereka gagal mempertahankan pengepungan tersebut berkat kedatangan Jeanne d'Arc dan pasukan Prancis yang mengangkat pengepungan.
Manjanik adalah contoh teknologi militer yang mengubah cara perang dikepung pada Abad Pertengahan, memungkinkan pasukan untuk menyerang benteng dengan lebih efektif dan strategis.
Sumber referensi
1. Primary Sources:
- Manuskrip sejarah dari Abad Pertengahan yang mencatat pengepungan dan penggunaan mesin perang, seperti "Chronica Majora" oleh Matthew Paris.
- Kronik-kronik Perang Salib seperti karya William of Tyre, yang mendokumentasikan pengepungan Akko dan peristiwa penting lainnya.
2. Secondary Sources:
- "The Art of War in the Middle Ages" oleh C.W.C. Oman.
- "Siege Weapons of the Far East (1): AD 612-1300" oleh Stephen Turnbull, "Medieval Siege and Siegecraft" oleh Geoffrey Hindley, Encyclopedia Britannica - Trebuchet, National Geographic dan berbagai sumber lain.


Kamis, 22 Februari 2024

NATO (North Atlantic Treaty Organization)



Memasuki periode Perang Dingin (1945-1990) Amerika Serikat dan Uni Soviet telah memulai babak baru dalam upaya mempertahankan pengaruhnya dalam perpolitikan dunia sebagai dua negara adidaya yang muncul sebagai pemenang pasca Perang Dunia II. Di dalam upaya untuk mempertahankan pengaruh itu, kedua negara pun berlomba di dalam membentuk suatu pakta pertahanan militer di berbagai wilayah. Pembentukan pakta pertahanan itu tidak hanya menyoal tentang bagaimana cara mereka mempertahankan pengaruh saja, melainkan pula bertujuan untuk melebarkan sayap ideologi yang mereka jadikan sebagai landasan dalam membentuk suatu tatanan baru politik dunia.


Menyadari akan berbahayanya penyebaran paham komunis di Eropa, maka Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara Eropa Barat yang termasuk ke dalam sekutunya membentuk suatu pakta pertahanan militer dengan harapan dapat membendung pengaruh dari penyebaran paham komunis di Eropa dan melindungi diri dari ancaman yang diberikan oleh Uni Soviet. Di bawah ini akan dideskripsikan tentang latar belakang kemunculan Pakta Pertahanan Atlantik Utara dan perkembangan organisasi ini selama periode Perang Dingin.

Kemunculan NATO

Perang Dunia II telah membawa akibat yang mengerikan bagi sebagian besar benua Eropa yang dapat dikatakan menuju ambang kehancuran. Perang Dunia II setidaknya telah menyebabkan lebih kurang 36,5 juta orang Eropa tewas di dalam konflik tersebut, dan 19 juta orang di antara jumlah tersebut adalah warga sipil. Pemandangan seperti kamp pengungsian dan penjatahan atau pembatasan kebutuhan sehari-hari telah menjadi hal yang lumrah dan biasa.

Di beberapa daerah di Eropa, angka kematian bayi sangatlah tinggi, di mana diperkirakan satu dari empat bayi tidak dapat terselamatkan. Pemandangan lainnya adalah jutaan anak menjadi yatim piatu dan berkeliaran di bekas kota metropolis yang telah terbakar habis. Bahkan di kota Hamburg, Jerman, dinyatakan hampir setidaknya setengah juta orang telah kehilangan tempat tinggal mereka.

Selain daripada jumlah kerugian dan bertebarannya korban pasca Perang Dunia II, perkembangan ideologi komunis yang dikampanyekan oleh Uni Soviet telah menjadi ancaman yang serius bagi setiap pemerintahan di seluruh Eropa. Sepanjang tahun 1947–1948, serangkaian peristiwa di Eropa telah menyebabkan negara-negara Eropa Barat menjadi khawatir tentang keamanan dan politik mereka akibat maneuver yang dilakukan oleh Uni Soviet.

Hal ini yang menyebabkan Amerika Serikat sebagai salah satu negara adidaya menjadi lebih terlibat dengan urusan-urusan di Eropa. Kecemasan itu mulai nampak nyata pada perang saudara yang sedang berlangsung di Yunani, dan ketegangan di Turki. Selain itu pada Februari 1948, Partai Komunis Cekoslowakia, yang dengan dukungan dari Uni Soviet, telah berhasil menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dan sah di negara itu.
Beberapa persitiwa yang terjadi di Eropa sepanjang tahun 1947-1948 ini telah membuat Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memberikan bantuan ekonomi dan militer kepada kedua negara (Yunani dan Turki terutama), serta negara lain di Eropa yang membutuhkan bantuan untuk merekonstruksi stabilitas politik dan ekonomi yang hancur pasca Perang Dunia II.

Selain itu, untuk merespon tindakan yang dilakukan oleh Uni Soviet, Amerika Serikat berupaya untuk memberikan bantuan bagi negara-negara Eropa yang diberikan melalui program kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, George Marshall yang kelak kebijakan itu dikenal dengan kebijakan Marshall Plan dan juga Amerika Serikat akan menggunakan cara-cara lainnya untuk membentuk stabilisasi ekonomi dan politik di Eropa pasca Perang Dunia II.

Kendati daripada itu, negara-negara Eropa masih membutuhkan kepercayaan akan keamanan mereka, sebelum mereka memulai pembicaraan tentang suatu persekutuan dan menjalankan perdagangan antara satu sama lain. Oleh karena itulah kiranya perlu dibentuk suatu kerja sama di bidang militer dan keamanan.

Sebagai jawaban atas permasalahan itu (militer dan keamanan) maka Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization atau NATO/l'Organisation du traite de l'Atlantique nord atau OTAN) didirikan pada tahun 1949, sebagai tindak lanjut terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang telah ditandatangani di Washington DC pada 4 April 1949 oleh Amerika Serikat, Kanada, Belgia, Luksemburg, Belanda, Perancis, Inggris, Norwegia, Portugal, Italia, Denmark, dan Belanda.

Persetujuan Atlantik Utara yang menjadi kesepakatan tersebut terdapat pada Pasal V, yang kurang lebih pasal ini diberlakukan agar jika salah satu anggota dari Pakta Warsawa atau pun Uni Soviet beserta sekutunya melancarkan serangan kepada salah satu anggota dari NATO baik di Eropa maupun Amerika Utara maka akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Meskipun penandatanganan Perjanjian Atlantik Utara telah membentuk sebuah persekutuan, hal itu belum mampu menciptakan suatu struktur dalam kemiliteran yang dapat secara efektif mengkoordinasikan tindakan-tindakan mereka. Namun semua ini berubah ketika muncul kekhawatiran yang berkembang tentang adanya aktivitas bom atom milik Uni Soviet sejak tahun 1949 dan pecahnya Perang Korea pada tahun 1950.

Secara umum NATO tidaklah berbeda dari persekutuan-persekutuan tradisional di masa lalu yang menekankan persekutuan pada peningkatan kekuatan militer bagi negara-negara anggotanya. Namun NATO memiliki tujuan yang lain yaitu memelihara stabilitas politik dan ekonomi di antara negara-negara anggotanya dan penyelenggaraan hubungan-hubungan yang lebih erat di antara negara-negara anggota di pelbagai bidang, dan berupaya untuk mencapai tujuan ini melalui organisasi multinasional yang rumit.

Tujuan organisasi ini memberikan pengarahan yang terpusat pada kebijakan militer dan ekonomi anggota-anggotanya berdasarkan persetujuan-persetujuan yang telah disepakati oleh negara anggotanya. NATO sebagai sebuah organisasi telah melampaui batas dari suatu persekutuan tradisional yang mengarah pada organisasi internasional jenis baru.

NATO dipimpin oleh Dewan Atlantik Utara, yang terdiri dari petugas kabinet yang berasal dari masing-masing negara anggota. Dewan tersebut adalah penguasa tertinggi NATO; dewan inilah yang menetapkan jadwal-jadwal produksi masing-masing anggota, keperluan-keperluan anggaran belanja, kualitas dan kuantitas dari kontribusi militer dan lain-lainnya. Dewan tersebut dibantu oleh staf internasional yang diketuai oleh seorang Sekretaris Jenderal, di mana melalui Sekretaris Jenderal itulah yang benar-benar merupakan badan internasional yang bekerja semata-mata untuk organisasi itu sendiri. Inilah yang disebut dengan birokrasi sipil tetap NATO.

Di bawah Dewan Atlantik Utara bekerja sejumlah lembaga sipil dan militer. Organisasi militer NATO dipimpin oleh Komisi Militer, yang terdiri dari kepala-kepala staf negara-negara anggota. Komisi Militer memberikan nasihat kepada Dewan mengenai persoalan militer, rencana-rencana tindakan militer untuk pertahanan bersama, dan dibantu oleh staf militer internasional. NATO bertanggung jawab terhadap strategi pertahanan Atlantik Utara dan memberikan bimbingan serta instruksi-instruksi kepada para pimpinan NATO. Para pimpinan ini terdiri dari Markas Besar Tertinggi, Kekuatan Gabungan, SHAPE (Supreme Headquarters Allied Powers Europe) terutama adalah yang terpenting. Di bawah Komandan Tertinggi di Eropa, NATO mengatur kekuatan militer terpadu di kawasan Eropa Barat.


Minggu, 12 November 2023

Pasukan Cakrabirawa yang Dianggap Sebagai Eksekutor G30S/PKI

 


IST/Wartakota

Pasukan Cakrabirawa. Simak fakta-fakta tentang Pasukan Cakrabirawa yang selama ini dianggap sebagai eksekutor Gerakan 30 September atau G30S/PKI. 


SURYA.co.id - Berikut fakta-fakta tentang Pasukan Cakrabirawa yang selama ini dianggap sebagai eksekutor Gerakan 30 September atau G30S/PKI.
Diketahui, Pasukan Cakrabirawa langsung tercoreng setelah beberapa anggotanya terpengaruh PKI dan menjadi eksekutor dalam aksi G30S/PKI.
Pasukan yang bertugas sebagai pengawal Presiden Soekarno ini, satu per satu anggotanya ditangkap untuk diselidiki keterlibatannya dengan PKI.
Bahkan, beberapa mantan anggotanya mengaku langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses persidangan.
Lantas, seperti apa profil Pasukan Cakrabirawa? Dan bagaimana pengakuan mantan anggotanya?
Berikut ulasan selengkapnya.
1. Awal terbentuk
Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, sudah dibentuk sebuah Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai) yang bertugas untuk mengawal presiden.
Seperti dilansir dari buku 'Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno' karangan Asvi Arwan Adam dkk, Penerbit Kompas Gramedia (2014).

Di wilayah Jakarta, Polisi Istimewa tersebut dijuluki “Polisi Macan” di bawah pimpinan Gatot Suwiryo.
Polisi Macan inilah yang menjadi cikal bakal pasukan Cakrabirawa.
Pada tahun 1945, Gatot memindahkan anggota Polisi Macan ke Pasukan Pengawal Pribadi Presiden (Tokomu Kosaku Tai) di bawah pimpinan Mangil Martowidjojo
Pasukan ini bermarkas di Kantor Pusat Kementerian Negara sekaligus asrama di Gedung Kementerian Dalam Negeri (kini Jl Veteran) di bawah pimpinan Raden Said Soekanto.
Tugas-tugas Pasukan Pengawal Pribadi Presiden itu antara lain:
- Mengamankan perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI 17/8/1945
- Membantu pengamanan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada pada bulan September 1945
- Mengawal rombongan Presiden dan Wakil Presiden dalam perjalanan secara rahasia menggunakan kereta api dari Jakarta menuju Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
2. Beberapa kali berganti nama
Semenjak keberhasilannya mengungsikan rombongan Presiden dan Wapres ke Yogyakarta itu, Said Soekanto pada tahun 1947 membentuk kesatuan khusus bernama Pasukan Pengawal Presiden (PPP) dan dikomandani oleh Mangil.
Tugas utama PPP adalah menjaga keselamatan Presiden dan Wakil Presiden beserta seluruh anggota keluarganya.
Hingga tahun 1962, meskipun Presiden Soekarno telah mendapat pengawalan dari PPP, upaya pembunuhan terhadap Presiden masih tetap terjadi.
Mengingatbanyaknya ancaman yang mengincar jiwa Presiden Soekarno itu, ajudan Presiden, Letkol CPM Sabur, menghadap ke Istana Merdeka untuk menyampaikan laporan bahwa Departemen Pertahanan dan Keamanan berencana membentuk Pasukan Pengawal Istana Presiden (PPIP) yang lebih sempurna.
Tokoh yang ingin membentuk pasukan pengawal Istana Presiden itu adalah Jenderal AH Nasution, tapi Presiden Soekarno ternyata menolaknya.
Pasalnya Mangil saat itu sudah membentuk Detasemen Kawal Pribadi (DKP) dan dirasa oleh Presiden Soekarno sudah cukup untuk mengawalnya.
Namun Letkol Sabur tetap mendesak Presiden Soekarno untuk membentuk PPIP dan akhirnya disetujui.
Presiden Soekarno bahkan menunjuk Letkol Sabur sebagai komandan PPIP dan dipercaya merekrut anggota PPIP yang berasal dari semua angkatan (AU, AD, AL, dan Kepolisian).
3. Berganti nama Pasukan Cakrabirawa
Pada 6 Juni 1962, PPIP berganti nama menjadi Cakrabirawa dan diresmikan oleh Presiden Soekarno
Sabur ditunjuk sebagai komandannya dan sudah mendapat kenaikkan pangkat sebagai Brigjen, dengan Wakil Komandannya adalah Kolonel Maulwi Saelan.
Cakrabirawa dalam dunia pewayangan merupakan senjata pamungkas milik Prabu Kresna yang jika dilepaskan bisa menyebabkan malapetaka yang dahsyat bagi musuhnya.
Seperti dikutip dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia'.
4. Berkekuatan 3000 personel
Menurut Soekarno, pasukan Cakrabirawa berkekuatan 3000 personel yang berasal dari keempat Angkatan Bersenjata.
Setiap anggota Cakrabirawa berasal dari pasukan yang handal. Umumnya mereka berlatar belakang pejuang gerilya yang sudah berpengalaman.
Mereka direkrut dari bekas pasukan Raider Angkatan Darat, Korps Komando (KKO) Angkatan Laut, Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara, dan Brigade Mobil diberi nama Batalyon KK (Kawal Kehormatan).
5. Pembagian batalyon pasukan Cakrabirawa
Pasukan Cakrabirawa dibagi menjadi 4 Batalyon (I - IV)
Batalyon I dan II bertugas di Jakarta dan Batalyon III dan IV menjaga Istana Bogor, Cipanas (Cianjur), Yogyakarta, dan Tampaksiring (Bali).
Karena penugasan tersebut, Markas Batalyon I KK berada di Jalan Tanah Abang (kini Markas Paspampres) dan Batalyon II menempati asrama Kwini (sekarang ditempati Marinir angkatan Laut).
Batalyon I KK berasal dari satu batalyon Angkatan Darat dipimpin oleh Mayor Eli Ebram.
Ia hanya menjabat satu tahun lebih, kemudian naik pangkat menjadi Letkol.
Eli Ebram kemudian diganti oleh Letkol Untung, pindahan dari Kodam VII/Diponegoro, Jawa Tengah.
Batalyon II KK eks Pasukan KKO Angkatan Laut dipimpin oleh Mayor KKO Saminu, yang naik pangkat menjadi Letkol KKO.
Batalyon III KK dari PGT Angkatan Udara dipimpin oleh Mayor PGT.
Batalyon IV KK dari Brimob Angkatan Kepolisian dipimpin oleh Komisaris Polisi M.Satoto, yang naik pangkat menjadi ajun komisaris besar polisi (Letkol Polisi RI).
6. Dianggap pendukung PKI
Dalam G30S/PKI 1965, Letkol Untung dan satu peleton Cakrabirawa dari Batalyon I KK pimpinan Lettu Dul Arif, merupakan motor utama dalam aksi penculikan dan pembunuhan 7 Jenderal Pahlawan Revolusi.
Akibat aksi Letkol Untung dan Lettu Dul Arif itulah nama Cakrabirawa pun tercoreng. 
Para petinggi dan personel pasukan Cakrabirawa juga banyak yang ditangkap dan dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan.
7. Pengakuan mantan anggota
Sementara itu, pengakuan mengejutkan datang dari salah satu pasukan cakrabirawa yang menjadi saksi mata dalam tragedi G30S/PKI.
Ia mengaku sangat kaget saat menadapat perintah untuk menculik dan membunuh para Pahlawan revolusi.
Dia adalah Ishak Bahar (87), warga Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Lansia yang pernah menyandang pangkat terakhir Sersan Mayor (serma) itu saat peristiwa G30S bertugas sebagai Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa.
Melansir dari Kompas.com dalam artikel 'Kesaksian Eks Prajurit Cakrabirawa Saat G30S/PKI: Abdul Latief dan Untung Pamit ke Soeharto Sebelum Culik Dewan Jenderal'.
“Saya pendidikan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) terus bertugas di pengawal Istana tahun 1964. Waktu Soekarno pidato di Konferensi Asia Afrika, saya yang mengawal presiden ke Aljazair,” kata Ishak saat berbincang di rumahnya, Rabu (29/9/2021).
Ishak mengungkapkan, keterlibatan dirinya dalam tragedi G30S adalah hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Dia merasa terjebak dalam pusaran politik yang menjungkirbalikkan nasibnya dari seorang patriot yang terhormat menjadi pesakitan berlabel pengkhianat negara.
Masih jelas di ingatan, saat Letkol Untung, pimpinan Ishak di Batalion Cakrabirawa memberi perintah untuk ikut bersamanya.
Padahal, sore itu juga, Ishak ada jadwal mengawal presiden ke Senayan.
“Sore itu sekitar jam 18.00 WIB, saya ada tugas untuk mengawal Soekarno ke Mabes Teknisi di Senayan, tahu-tahu Pak Untung datang minta saya ikut dia,” katanya.
Saat itu Ishak sempat bertanya kepada Untung karena perintah untuk mendampingi bertepatan dengan tugas mengawal presiden.
Namun, sebagai prajurit, dia terikat oleh sumpah militer untuk patuh kepada pimpinan, tidak membantah perintah atau putusan.
“Sudah jangan mengawal (presiden), ikut saya!” kata Ishak menirukan perintah Untung.
Dengan persenjataan lengkap, Ishak mengawal dalam satu kendaraan bersama Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), sopir dan ajudan.
Sesampainya di Lubang Buaya, Ishak diperintahkan untuk bersiaga di sebuah rumah pondok.
Menjelang tengah malam, pasukan Batalion Cakrabirawa yang lain datang berduyun-duyun.
“Saya kaget malah, pasukan-pasukan datang, ya anggota Cakrabirawa, teman-teman saya.
Tahu-tahu dibagi regu untuk menculik jenderal. Saya tidak (menculik), saya ngawal Untung di Lubang Buaya,” ujar Ishak.
Masuk 1 Oktober pukul 01.00 WIB, satu per satu regu bergerak untuk menculik Dewan Jenderal.
Pukul 03.00 WIB, para jenderal datang silih berganti.
Ishak menuturkan, tidak semua jenderal yang dibawa oleh prajurit Cakrabirawa dalam keadaan hidup.
“Jenderal Yani (Letjen Ahmad Yani), Panjaitan (Brigjen D.I. Panjaitan), Haryono (Mayjen Harjono) mati, dan Toyo (Brigjen Sutoyo) sudah meninggal. Yang hidup hanya tiga, Jenderal Prapto (Mayjen R. Soeprapto), Jenderal Parman (Mayjen S. Parman) dan Tendean (Lettu Pirre Tandean). Jenderal Nasution enggak ada,” kata Ishak.
“Saya kaget, saya panik malah, kok ada begini, ada apa,” sambungnya.
Karena kepanikan itu, para jenderal yang diculik, baik masih hidup atau sudah meninggal dijebloskan ke dalam sebuah sumur tua.
Tubuh mereka dilempar lalu ditembak dari atas secara membabi-buta.
“Saya menyaksikan langsung dengan satu polisi namanya Soekitman. Awalnya, Soekitman ini suruh dibunuh, tapi saya tahan, saya lindungi, saya bilang kamu tidak tahu apa-apa,” kata Ishak sambil memperagakan detik-detik penembakan.
Kelak, Soekitman yang diselamatkan Ishak ini menjadi saksi kunci bagaimana kebiadaban para tentara Cakrabirawa membantai Dewan Jenderal.
Dia pula yang menunjukkan lokasi jasad Dewan Jenderal dibenamkan dalam sumur tua lalu diuruk dan ditanam pohon pisang.
Ishak mengungkapkan, peristiwa pembantaian itu berlangsung sangat cepat. Bahkan, sampai detik terakhir penembakan jenderal, dia masih belum percaya apa yang terjadi di depan matanya adalah nyata.
“Saya hanya sedikit tahu kalau Dewan Jenderal ini mau menggulingkan Pak Karno, sebagai pasukan pengawal presiden, Cakrabirawa berkewajiban menggagalkan itu,” terangnya.
Ishak mulai sadar, bahwa dirinya sudah terjebak masuk dalam pusaran gejolak politik yang maha dahsyat.
Meski demikian, Ishak belum sepenuhnya paham skenario seperti apa yang akan menjeratnya setelah itu.
“Setelah itu lalu bubar, saya enggak tahu (Untung dan Latief) pada ke mana, saya ditinggal dengan pasukan-pasukan yang lain. Saya pulang sendiri dengan pembawa truk, sopir dan Soekitman itu tadi,” katanya.
Sesampainya di markas Cakrabirawa, tidak berselang lama datang pasukan tentara berpita putih. Ishak dilucuti dan langsung dijebloskan ke penjara tanpa dimintai keterangan apa pun.
“Saya ditahan belasan tahun tanpa pakai persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan jadi saksinya Untung,” ujarnya.
Selama 14 hari, Ishak ditahan di LP Cipinang. Di sinilah neraka dunia yang dirasakan bagi pasukan Cakrabirawa yang tertangkap, tidak terkecuali Ishak.
“Saya diberi makan jagung rebus saja, tapi tidak pakai piring, langsung disebar di lantai, dituturi (dipunguti) satu-satu,”
Selain itu, siksaan yang dialami selama di Cipinang juga tak bisa diceritakan dengan rinci oleh Ishak.
Dari sorot mata dan mimik muka, Ishak tampak masih menyimpan trauma akan penyiksaan saat proses interogasi di sana.
“Saya disuruh mengaku anggota ini, anggota itu, saya jawab enggak ngerti anggota, enggak ngerti partai, enggak ngerti apa-apa, gole (petugas) mukuli semaunya,” ungkapnya.
Setelah 14 hari, Ishak dan sejumlah anggota Cakrabirawa dipindah ke Salemba. Di sana dia menghabiskan 13 tahun lamanya dalam jeruji besi tanpa pernah mendapat peradilan yang layak.
“Banyak yang mati karena makanan ngga cukup, banyak juga yang mati karena disiksa. Temen-temen saya (Cakrabirawa) sudah habis, di sel banyak yang mati, dibebaskan apalagi, sudah,” kata Ishak.
Belasan tahun Ishak menempati sel berukuran 4x1 meter bersama empat rekannya. Hingga akhirnya, Ishak dibebaskan pada 28 Juli 1977 bebarengan dengan ratusan ribu tahanan politik yang lain.
Sepulangnya dari hukuman, Ishak masih harus dihadapkan dengan stigma masyarakat.

https://surabaya.tribunnews.com/2022...ggota?page=all