Rabu, 03 Juli 2024

Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara

 "Sekarang saya ingin anda ingat bahwa tidak ada bajingan yang pernah memenangkan perang dengan mati demi negaranya. Dia memenangkannya dengan membuat bajingan bodoh malang lainnya mati demi negaranya"





Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!
(Sebelum menuju tempat damai/Sumber gambar)



Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS di Pantai Omaha!

Banyak kisah prajurit-prajurit tangguh dengan prestasi gemilang di medan perang yang melakukan apa saja demi kemenangan bangsanya, entah ia gugur sebagai pahlawan ataupun selamat sampai akhir perang. Di sisi Jerman kala perang dunia misalnya, ada Jenderal Erwin Rommel, Letnan Satu Michael Wittmann, Mayor Erick Rudorffer.

Namun biasanya mereka berjaya ketika Jerman sedang disaat jaya-jayanya, hanya beberapa saja yang tetap menunjukkan kehebatan walaupun Jerman sedang masa terpojok, di sisi Eropa Barat dikeroyok pasukan sekutu dan disisi Eropa Timur ditekan puluhan juta tentara merah Soviet. Semisal kehebatan memimpin seorang Field Marshal Otto Moritz Walter Model, ataupun seorang Jerman yang dijuluki sebagai Monster dari Omaha.

Heinrich Severloh, seorang prajurit Jerman yang terlibat dalam Pertempuran Pantai Omaha selama Perang Dunia Kedua, dikenal karena kebrutalan dan ketangguhannya. Pada tanggal 14 Januari 2006, ia meninggal dunia pada usia 82 tahun, meninggalkan warisan kontroversial namun tak terlupakan dalam sejarah perang dunia.



Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!
Severloh adalah bagian dari sekelompok kecil tentara Jerman di Widerstandnest 62 di Pantai Omaha. Dengan senjata utama MG-42, ia menjadi momok menakutkan bagi pasukan Sekutu yang mendarat di pantai tersebut. Meskipun tidak pernah menjadi prajurit yang sempurna karena kedisiplinan dan hukuman, keberaniannya dalam pertempuran itu menunjukkan kompleksitas manusia di tengah kekerasan perang.

Masuk sebagai dalam divisi infanteri ke 352 Jerman yang bertugas sebagai benteng pertama menahan laju sekutu di operasi Normandia, ia menuliskan memoar yang sangat terkenal yang diterbitkannya dalam bahasa Jerman WN 62 – Erinnerungen an Omaha Beach Normandie, 6. Juni 1944. Dan mengklaim berhasil menewaskan sekitar 1000 atau 2000 tentara sekutu yang mendarat di pantai Omaha saat D-Day.



Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!Apocalypse World War 2: Heinrich Severloh, Monster Jerman Pemusnah Ribuan Tentara AS!
(Pihak AS dan Jerman menolak klaim Severloh, korban tewas dari sekutu di pantai sepanjang 5 mil ini diperkirakan 2.500 orang. Severloh ada di area WN-62 dengan jarak tembak 170 M, senjata MG 42 dan senapan Karabiner 98k. Menembak 13.500 peluru senapan mesin dan 400 peluru senapan, dari tempat yang kemungkinan besar sangat mudah untuk menjatuhkan lawan/Sumber gambar)

Kisah hidup Heinrich Severloh memberikan pelajaran tentang kekuatan dan kesulitan dalam menghadapi perang. Meskipun kontroversial, kontribusinya dalam Pertempuran Pantai Omaha tidak bisa diabaikan dalam sejarah perang dunia. Bagi banyak orang, Severloh merupakan simbol dari pertarungan sengit di medan perang yang penuh dengan tragisitas dan keberanian.

Dengan kepahlawanannya dalam Pertempuran Pantai Omaha, Heinrich Severloh meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah perang dunia kedua. Meski terdapat kontroversi di sekitar kehidupannya, ia tetap diingat sebagai sosok yang menghadapi kebrutalan perang dengan keberanian yang luar biasa.


Kades Wakatobi Kecewa Jembatan Diperbaiki Bule Denmark

 Kades Wakatobi Kecewa Jembatan Diperbaiki Bule Denmark, Netizen: Gak Tau Terima Kasih

Aksi viral Kristian Hansen, seorang bule asal Denmark, yang memperbaiki jembatan rusak di Kampung Bajau, Desa Samabahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, mendapat pujian luas dari masyarakat. Dalam waktu 24 jam, Hansen berhasil menggalang dana sebesar Rp75 juta melalui media sosialnya, dan menggunakan dana tersebut untuk memperbaiki jembatan serta sejumlah rumah warga yang rusak. Aksi altruistiknya ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam mobilisasi bantuan dan perhatian global terhadap masalah lokal.

Namun, aksi baik Hansen tidak sepenuhnya disambut positif oleh pemerintah desa setempat. Kepala Desa Samabahari, Gamis, mengungkapkan dalam video yang juga viral di media sosial bahwa jembatan tersebut sebenarnya masih layak digunakan hingga dua tahun ke depan, sehingga belum memerlukan perbaikan mendesak. Ia juga menyatakan kekecewaannya karena perbaikan dilakukan tanpa koordinasi atau sepengetahuan pihak desa. Komentar miring ini menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat mengenai prioritas dan komunikasi antara warga, relawan, dan pemerintah dalam menangani infrastruktur desa.




Senin, 01 Juli 2024

HANG TUAH ADALAH PAHLAWAN BERASAL DARI ANAK RAJA DAERAH BAJENG , GOWA, MAKASSAR

 



Sejarah Laksamana Hang Tuah dan Para Sahabatnya
RIWAYAT HIDUP HANG TUAH:
1. Nama sebenar Hang Tuah adalah Daeng Merupawah atau Daeng Mempawah, iaitu anak kepada Raja yang pernah memerintah Daerah Bajung (ejaan sebenarnya adalah Daerah Bajeng, Gowa, Makassar).
Hikayat Sulatus Al Salitin bertulisan jawi dengan ejaan ‘Ba Alif Jim Nga’ menyebabkan sebutannya menjadi Bajung. Tidak pernah wujud Daerah Bajung di Makassar atau Gowa tetapi yang ada hanyalah Daerah Bajeng, di Gowa, Makassar.
2. Hang Tuah telah dilahirkan pada tahun 1388 Masehi. Ini kerana mengikut riwayat, usia Hang Tuah pada tahun 1400 Masehi adalah 12 tahun. Pada usia tersebut beliau telah berjaya membunuh 2 orang yang mengamuk di Bajeng.
3. Kesultanan Gowa:
3.1 Tumanurunga (1300 Masehi)
3.2 Tumassalangga Baraya
3.3 Puang Loe Lembang
3.4 Tuniatabanri
3.5 Karampang ri Gowa
3.6 Tunatangka Lopi (1400 Masehi)
3.7 Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
3.8 Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
3.9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (1500 Masehi)
4. Seri Bija Pikrama dan Tun Sura Diraja, dari Melaka telah datang ke Makassar dan berjumpa dengan Raja Gowa (Batara Gowa Tuminanga Ri Paralakkenna). Raja Gowa menyambut baik kedatangan Seri Bija Pikrama dan ingin mengirim sesuatu kepada Sultan Mansur Syah sebagai balasan dari kunjungan tersebut. Seri Bija Pikrama menyatakan bahawa Sultan Mansur gemar mengumpul anak anak muda yang memenuhi syarat syarat tertentu untuk dijadikan pahlawan negeri Melaka. Mendengarkan hal itu, Raja Gowa telah menyuruh orangnya mencari anak muda seperti yang dikehendaki dan menepati syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dibawa dan dijadikan pahlawan Melaka.
π™ƒπ˜Όπ™‰π™‚ π™π™π˜Όπ™ƒ
5. Kisah Hang Tuah membunuh 2 orang yang mengamuk di Bajeng sewaktu berusia 12 tahun telah mendapat perhatian Raja Gowa. Hang Tuah telah terpilih untuk menyertai rombongan ke negeri Melaka.
6. Sultan Mansur Syah, sebelum pemilihan Hang Tuah, telah ada 8 orang anak anak muda yang menepati dan memenuhi syarat syarat yang telah ditetapkan untuk dijadikan pahlawan pahlawan Melaka. Mereka adalah;
6.1 Hang Jebat
6.2 Hang Kasturi
6.3 Hang Lekir
6.4 Hang Lekiu
6.5 Hang Ali ( Tun Bija Sura@Tun Ali@Tok Bongkok)
6.6 Hang Iskandar
6.7 Hang Hassan
6.8 Hang Hussin
7. Ketua kepada mereka bersembilan ini adalah Hang Ali@Tun Bija Sura. Hang Ali diberikan jawatan Bendahara Tun Ali sewaktu pemerintahan Sultan Mansur Shah.
8. Hang Tuah dikatakan melebihi kesemua yang lain didalam ilmu dan kepandaian persilatan. Hang Tuah telah diberikan oleh Sultan Melaka sebilah keris bernama Terupa Melaka semasa sampai di Melaka. Beliau telah banyak berguru kepada hulubalang hulubalang di Melaka.
9. Dalam lingkungan usia antara 25 dan 26 tahun, Hang Tuah telah mengahwini Raja Maznun Mazni binti Raja Azman Shah yang merupakan sepupu kepada isteri Raja Long Alwi. Raja Long Alwi adalah anak saudara kepada Raja Bersiong dan merupakan putera sulung kepada adinda Raja Bersiong iaitu Raja Zulkarnain ibni Almarhum Raja Syahibul Khalid Abdullah. Tujuan pernikahan ini adalah untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan Hang Tuah dengan kerabat diraja Kedah ketika itu.
10. Perkahwinan kedua Hang Tuah adalah dengan Raja Intan Maimunah binti Raja Ibrahim Malik yang merupakan anak saudara kepada Wan Malini. Keturunan isteri keduanya juga berasal dari Kedah tetapi sudah lama menetap di negeri Kelantan serta ada yang telah berkahwin dengan kerabat diraja Kelantan.
11. Keturunan Hang Tuah:
Anak dari isteri pertama Tun Sendari (Adik Tun Bija Sura @ Tok Bongkok):
1. Tun Sirah (perempuan) kahwin dengan Maulana Sayyid Fadillah Khan bin Maulana Patakan Ismail bin Maulana Sayyid Barkat Nurul Alam bin Maulana Sayyid Husin Jamadil Kubra. Nama lain nya Laksamana Temenggung Khoja Hassan atau Tubagus Pasai atau Falalten atau Raden Hidayat
CUCU DARI ISTERI PERTAMA
1. Tun Abdullah (Lelaki)
2. Tun Biajid (Lelaki)
3. Tun Daerah (Perempuan) - Berkahwin dengan Sultan Mahmud Syah
CICIT DARI ISTERI PERTAMA
1. Raja Dewi binti Sultan Mahmud Syah
Anak dari Isteri Kedua Tun Ratna, adik Tun Perak Dari keluarga Bendahara Paduka Raja:
1. Tun Guna (Lelaki)
2. Tun Emas Jiwa@ Tun Mas Dewi (Perempuan) - Berkahwin dengan Hang Nadim bin Hang Jebat melahir kan Tun Hamzah , beranak kan Tun Mat Ali yang bergelar Datuk Seri Bertam.
CUCU DARI ISTERI KEDUA
1. Tun Mat Ali Hang Nadim
Cicit dari isteri kedua
1. Tun Hamzah Tun Mat Ali
Piut dari isteri kedua
1. Tun Ali Tun Hamzah - Tun Ali bergelar Datuk Seri Bertam
12. Hang Tuah meninggal dunia setelah sekembalinya Hang Nadim dari perjalanan ke Benua Keling. Hang Tuah telah dimakamkan di Tanjung Keling, diMelaka. Pengganti jawatan Laksamana adalah menantunya sendiri, Temenggung Khoja Hassan.
SUMBER RUJUKAN:
1. Hikayat Sulatus Al –Salatin karangan Tun Muhammad atau Tun Seri Lanang pada tahun 1612 Muka surat 104. Pada masa kini terdapat beberapa versi antaranya versi Winstedt dan versi Shellabear.
2. Naskah Raffles Malay 18 masih tersimpan di Royal Asiatic Society, London atau Sulatus al-Salatin Cod. Or. 1704 yang tersimpan di Universiti Leiden, Belanda
3. Buku "Amando Cortesao - The Suma Oriental of Tome' Pires", Pires adalah seorang Portugis yang berada di Melaka semasa Portugal menyerang Melaka pada 1511, beliau menyatakan "Kalaulah Hang Tuah masih ada di Melaka, Portugis tidak akan berani menyerang".
4. Buku "A. Kobata and M. Matsuda - Ryukyu relations with Korea and south sea countries" A. Kobata telah merujuk kepada kepada catatan bernama "Rekidai Hoan" yang telah ditulis dan disusun pada 1697 oleh Raja kepulauan Ryukyus yang mana didalam catatan tersebut ada menyebut mengenai keberanian Hang Tuah yang telah masuk ke pelabuhan di Kemboja semasa perang saudara sedang berlangsung diketika itu untuk mengambil air minuman dengan menggunakan perahu layar kecilnya.
Sumber diambil daripada:
**SUMBER :
Ustaz Wan Kamarulzaman (PSSGSM), Himpunan oleh Penglipur LaRa

Dijajah Ratusan Tahun, Kenapa Orang Indonesia Tak Bisa Bahasa Belanda?

 



Indonesia diketahui sudah cukup lama dijajah oleh bangsa Belanda. Namun demikian, selama ratusan tahun datang ke Indonesia, bahasa Belanda tidak begitu populer di semua kalangan masyarakat Indonesia.
Berbeda dengan sejumlah negara lainnya yang merupakan bekas jajahan bangsa lain seperti Malaysia dan Singapura. Sebagai negara bekas jajahan Inggris selama ratusan tahun, penduduk Malaysia dan Singapura memiliki kefasihan dalam berbahasa Inggris.
Sementara, pengaruh bahasa dari Belanda yang muncul di Indonesia adalah kata serapan, seperti gordijn menjadi gorden, bioscoop menjadi bioskop, hingga kantoor menjadi kantor.
Lantas, mengapa masyarakat Indonesia tidak bisa berbahasa Belanda?
Pada dasarnya, hal ini disebabkan oleh perbedaan corak kolonialisme Belanda dan Inggris. Diketahui, Inggris sengaja melakukan 'invasi' kultural Barat ke masyarakat Melayu sehingga kebudayaan lokal membaur dengan kebudayaan barat atau bahkan menghilang.
Lalu, di sektor bahasa, kebijakan ini membuat orang melayu cukup pandai berbahasa Inggris.
Sementara itu, Belanda tidak melakukan itu kepada penduduk Indonesia. Peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menjelaskan bahwa ada dua alasan Belanda bersikap beda terhadap kebudayaan lokal. Akibatnya, tingkat kefasihan bahasa Belanda masyarakat Indonesia di lintas generasi rendah.
Pertama, dilihat dari sudut pandang struktur kolonialisme Belanda. Saat itu, masyarakat lokal dan orang Belanda berada di struktur berbeda. Orang Belanda di kelas paling atas, sementara penduduk lokal berada di paling bawah. Orang Belanda menganggap, menyebarkan kebudayaan serupa dengan menganggap penduduk lokal dan orang Belanda setara secara kultural. Alhasil, mereka tidak mau membagikan kebudayaan Belanda agar struktur itu tetap terjaga.
Kedua, Belanda selalu melihat perspektif eksploitasi ekonomi sebagai ciri negara kolonial. Reinhart mengatakan, mereka merasa tidak masalah jika tidak menyebarkan kebudayaan. Hal terpenting adalah tetap melakukan eksploitasi dan menguntungkan secara ekonomi.
"Snouck Hurgronje, salah satu pejabat pemerintah kolonial, pernah mengatakan bahwa 'masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal," ujar Reinhart kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (16/9/2023).
Dua sikap Belanda itu berlangsung dari mulai fase eksploitasi tanam paksa dari 1830-1900 dan terus berlanjut saat Belanda menerapkan politik balas budi atau politik etis di tahun 1900.
Reinhart mengatakan, bangsa Belanda selalu fokus pada aspek ekonomi dan tidak mau merusak kebudayaan lokal terlebih setelah politik etis diterapkan. Mereka semakin paham bahwa menginvasi kebudayaan lain itu tidak baik.
Namun, bukan berarti penduduk lokal tidak boleh mengadopsi kebudayaan barat. Sebab, Belanda juga tidak tertutup soal itu. Faktanya, banyak kebudayaan barat yang diadopsi oleh penduduk lokal.
Beranjak dari alasan itulah, bahasa lokal, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia tumbuh berkembang. Meski demikian, orang Indonesia tidak perlu kecewa apabila tidak bisa berbahasa Belanda, seperti orang Malaysia dan Singapura yang fasih berbahasa Inggris. Sebab, bahasa Belanda bukanlah bahasa pergaulan internasional, seperti bahasa Inggris.

SUKU KUTAI = ORANG DAYAK

 



Suku kutai baru di kenal di era kemerdekaan Indonesia, sebelumnya kutai merupakan wilayah didalam pemerintahan Negara Kerajaan Segara di Muara Kaman yg kemudian digantikan oleh kesultanan Kutai Kartanegara
Suku Kutai Berdasarkan Jenisnya Adalah Termasuk Suku Melayu Tua Sebagaimana Suku-Suku Dayak Di Kalimantan Timur. Kutai Merupakan Suku Baru Yang Muncul Dalam Sensus Tahun 2000 Dan Merupakan 9,21% Dari Penduduk Kalimantan Timur, Sebelumnya Suku Kutai Tergabung Ke Dalam Suku Melayu Pada Sensus 1930.
Suku Kutai Masih Serumpun Dengan Suku Dayak, Khususnya Dayak Rumpun Ot-Danum. Karena Secara Fisik Suku Kutai Mirip Dengan Suku Dayak Rumpun Ot-Danum dan Adat-Istiadat Lama Suku Kutai Banyak Kesamaan Dengan Adat-Istiadat Suku Dayak Rumpun Ot-Danum (Khususnya Tunjung-Benuaq) Misalnya; Cerau dan Erau (Upacara Adat Yang Paling Meriah), Belian (Upacara Tarian Penyembuhan Penyakit), Memang, Dan Mantra-Mantra Serta Ilmu Gaib Seperti; Parang Maya, Panah Terong, Polong, Racun Gangsa, Perakut, Peloros, Dan Lain-Lain. Dimana Adat-Adat Tersebut Dimiliki Oleh Suku Kutai Dan Suku Dayak.
Kata kutai berasal dari kata belantara yakni (quwitaire) sesuai catatan dalam buku Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia kata quwitaire merujuk pada nama wilayah kerajaan yang ada di Muara Kaman.
Di samping itu ada pula yang menyatakan bahwa nama Kutai itu berasal dari bahasa Cina kho-thay. Kho Artinya Kerajaan, dan thay artinya besar. Jadi “kerajaan yang besar”. Ucapan ini lama kelamaan menjadi Kutai, hal ini merujuk pada masa terjadinya peperangan antara kerajaan di muara Kaman dan wangkang jong dari cina yang di kenal dengan perang lipan.
Sumber lain yaitu silsilah raja-raja (dalam negeri) Kutai (Kerta-negara) , menurut Silsilah Raja-raja (dalam negeri) Kutai (Kertanegara) yang dimuat oleh C. Hooy. kaas, Penyedar Sastra, J.B. Wolters — Groningen, Jakarta, 1952, halaman 214. Cf. C.A Mees. loc. cit, halaman 165–166.menyebutkan tentang asal-usul nama Kutai dari cerita Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Pada awalnya Kutai bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat atau wilayah kemudian lambat laun Kutai menjadi nama suku dan Nama Kabupaten di wilayah Kalimantan Timur. Pernamaan ibukota kerajaan (Kutanegara) pada abad ke 4 bahwa nama Muara Kaman berasal dari kata Bakulapura letaknya di tepi sungai Mahakam di seberang persimpangan sungai kanan mudik Mahakam yakni sungai Kedang Rantau asal nama kota Muara Kaman sekarang adalah Bakulapura sesuai catatan didalam sejarah Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara yang mana kota ini disebut Kota Muara.
Didalam sumpah Amukti Palapa Patih Gajah Mada di Kerajaan Majapahit tidak ada terdapat kata Tunjung Kute, yg sekarang dicocoklogikan. Hal ini tidak benar didalam Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi :
“Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaΓ±jung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terjemahannya:
“Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.
Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.
Jadi Nama Tanjung Kute ataupun Tunjung Kute itu tidak ada dalam pararaton dan kitab-kitab Negarakertagama menyebutkan nama Kutai seperti yang disebut oleh peneliti dari belanda dan peneliti local Kalimantan Timur.
Kemudian didalam catatan sejarah Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara pemerintahan Maharaja Sri Aswawarman adalah anak menantu Kudungga (Maharaja Sri Kundungga) dan disebut Juga Raja Bakulapura Tanjung Negara (Muara Kaman), berkuasa di Kutanegara.
Didalam prasasti yupa kuno yg ditemukan ditulis bahwa nama Kerajaan yang ada di Muara Kaman adalah Kerajaan Sagara, Wilayah kekuasaannya disebut Sadipa Malaya, daerah letak kerajaan atau ibu kota kerajaan bernama Bakulapura (Kota Muara) dalam bahasa Jawa Kuno, sedangkan dalam bahasa Melayu yaitu Moearakaman sebutan sekarang (Muara Kaman).
Suku Kutai, Dayak Kutai, atau Urang Kutai mayoritas beragama Islam dan hidup di tepi sungai dan ayoritas menganut agama Islam. Suku Kutai sampai saat ini masih memiliki kedekatan budaya melayu dengan Suku Banjar. Hal itu bisa dilihat dari kesenian kedua suku ini, seperti pertunjukan Mamanda atau seni teater Jepen/Zapin, musik Panting Gambus, budaya bersyair seperti Tarsul.
Menurut tradisi lisan dari Suku Kutai, antara tahun 3000-1500 sebelum Masehi, Mereka dari Yunan-Cina terdiri dari kelompok yang mengembara, hingga sampai di pulau Kalimantan melalui rute perjalanan melewati Hainan, Taiwan, Filipina. Kemudian, menyeberangi Laut Cina Selatan menuju Kalimantan Timur.
Pada zaman es proses perpindahan itu tidaklah begitu sulit, karena permukaan laut sangat turun akibat pembekuan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Hanya bermodalkan perahu kecil bercadik dengan sayap dari batang bambu, sangat mudah menyeberangi selat karimata dan laut cina selatan menuju Kalimantan Timur.
Masuknya para imigran dari daratan cina ke Kalimantan Timur, pada saat itu sudah termasuk kelompok Ras Negroid dan Weddid.
Seiring perkembangan zaman, bahasa saat ini Kutai terbagi ke dalam 4 dialek, yaitu:
1. Kutai Tenggarong
2. Kutai Kota Bangun
3. Kutai Muara Ancalong
4. Kutai Sengata/Sangatta
Disamping memiliki beberapa persamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Dayak lainnya
Tentang Prasasti Yupa Pembahasan, mengenai penemuan 7 (tujuh) buah Prasasti peninggalan Kerajaan di Muara Kaman, yang dikatakan sebagai kerajaan tertua di Nusantara dan merupakan Kerajaan Hindu pertama di Indonesia sudah cukup jelas kita ketengahkan dan sewajarnya kita ungkapkan, karena telah dibahas dan diteliti secara mendalam sampai saat ini.
Bagaimana kita ketahui, bahwa pada tahun 1870 adanya suatu penelitian di Muara Kaman, karena adanya penemuan-penemuan berupa benda-benda yang menyangkut sejarah Kerajaan di Muara Kaman yang selalu disebut-sebut dengan nama Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Kutai Mulawarman.
Adapun benda-benda yang diketemukan pada tahun 1870, tersebut antara lain 4 buah tugu (Batu Prasasti yang disebut Yupa), dua buah Lencana Kerajaan yang terbuat dari Emas dan Patung Kura-kura Emas yang disimpan oleh seorang keturunan Raja-raja di Muara Kaman.
Beberapa tulisan yang pernah menulis tentang Kutai :
1. C.A. Mees, yang membuat disertasi yang berjudul “De Kro-niek van Koetai” untuk mendapat gelar Dr. pada Universitas Leiden, dan dipertahankan pada: tanggal 24 Januari 1935, dengan promotor Dr. W .V. der Wonde.
2. J. Eisenberger, dengan karangannya “Kroniek der Zuideren Ooster afdeling van Borneo “. (1936)
3. J. Ph. Vogel, “The Yupa inscription o f King Mulawarman from Koetai” B.K.I. 74, 1918.
4. S. Hourgronje, “Nog iets over de Salasilah van Koetai”, B.K.I. deel III, 1888, blz, 109–120.
5. S.W. Tromp, “Uit de Salasilah van Koetai”, B.K.I. V 3–37, 1888, blz. 1–108.
6. A.R. Weddik, “Beknopt overzicht van het rijk van Koetai op Borneo”, Ind. arch. Iste jaarg. deel I, 1849, blz. 78–105 en 123–160.
7. Cari Bock, “Reis in Oost-Zuid Borneo, van Koetai naar Ban-djarmasin”, Hist. inleiding door S.W. Tromp S.C. Knappert, overzicht van Koetai, B.K.I. 1905, pag. 588.
8. W. Kern, “Commentaar op de Salasilah van Koetai”, Ver-handelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal, Landen Volkenkunde, deel XIX, 1956. Komentar ini terutama bersi-fat filologis.
9. B. Ch. Chhabra, “Threemore Yupainscriptions o f King Mula-warman from Koetai”, T.B.G. LXXXIII, pp. 370–375.
10. Undang-undang Beradja Nanti, uitg. en vert. door Dr. C.A. Mees in Adatrechtbundel 39, ‘s Gravenhage, 1937, blz. 300 -340. Bij de aanhalingen hieruit is gebruik gemaakt van een collatie van twee Tenggarongse handschriften.
11. H. van de Wall, vervolg van het extract uit de dagelijksche aanteekeningen van den civielen gezaghebber van Koetai en de Oostkust van Borneo Ind. Arch. 2e jaarg. deel III, 1850.
12. Toevoegsel op de Undang-undang Beradja Nanti handelend over de bruidschat van vorsten dochters vgl, Ph. S. van Ronkel, Het Maleische Adat Wetboek van Koetai, Med. Kon. Akad. Wetensch. A’dam afd. letterkunde deel 80, serie B, A ‘dam, 1935, blz. 161–166, geciteerd naar een Tenggarongs handschrift.
13. Sejarah Suku Kutai Dalam Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur. 



Penemuan Struktur Spiral di Bukit Papoura.

 



Penemuan terbaru telah mengungkap struktur berbentuk spiral yang menakjubkan dari peradaban Minoa, yang diyakini berusia sekitar 4.000 tahun. Struktur ini ditemukan di puncak Bukit Papoura dekat Kastelli, Kreta selama pekerjaan instalasi radar untuk proyek bandara baru. Detail Temuan Strukturnya terdiri dari delapan cincin batu yang mengelilingi bangunan melingkar di tengahnya. Diameternya sekitar 48 meter dan luasnya sekitar 1.800 meter persegi. Para arkeolog percaya bahwa bangunan tersebut mungkin digunakan untuk upacara ritual Minoa, dengan adanya tulang binatang yang menunjukkan adanya aktivitas manusia yang signifikan. Penemuan ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut bukanlah menara sinyal atau tempat ibadah seperti yang diperkirakan sebelumnya. Sebaliknya, diyakini berfungsi sebagai komunitas atau kompleks upacara yang digunakan secara berkala untuk perayaan makanan, anggur, dan persembahan lainnya. Sejarah dan Signifikansi Peradaban Minoa 




TUMPU LAU (PERBURUAN KEPALA MANUSIA) OLEH 'SUKU RONGKONG'


 

TUMPU LAU adalah Pemimpin dalam perburuan kepala manusia (Pengayauan) untuk digunakan sebagai riktual adat dalam pesta upacara adat Suku Rongkong. Dikisahkan ketika nenek moyang Suku Rongkong bernama Lalo-Lalo masih tinggal di Tana Marante (wilayah dataran rendah), saat itu perburuan yang dilakukan oleh Suku Rongkong berpusat di Pantilang untuk mendapatkan kepala manusia yang diperlukan. Pantilang ini terletak di jalan kira-kira terdapat batas antara daerah bahasa “Tae” dan daerah bahasa “Bae’e” (are’e, ae’e, iba). Oleh karena itu, Suku To Rongkong pernah menarik perhatian suku To Lewonu, yang termasuk dalam penutur Bare'e. Namun, setelah Lalo-Lao ini pindah ke Tiroan Rongkong (Wilayah Pararra), masyarakat Suku Rongkong melanjutkan perjalanan ke Mamuju dan pergi berburu kepala didaerah sekitar Tana Lotong. Kadang-kadang juga diperoleh di Riu di daerah Sa'dan (toraja), namun hal ini hanya terjadi ketika Suku Rongkong berselisih dengan penduduk Riu karena kedua suku tersebut mempunyai hubungan kekerabatan. Biasanya para Tumpu Lau berangkat dengan pasukan kecil yang terdiri dari sekitar sepuluh orang, pemimpinnya bernama TUMPU LAU "Ahli Perjalanan". Dalam upaya tersebut, perhatian khusus diberikan pada kicauan seke, seekor burung yang disebut di Posose kere-kere, dari suara yang dihasilkannya. Jika burung mendengar kere-kere ini, berarti tidak ada keberuntungan dalam perburuan, tetapi jika ia berteriak seke-seke berarti ada harapan. selama satu kelompok sedang berburu, pasangan (istri) pasukan pemburu tidak diperkenankan tidur pada siang hari, tidak boleh mencuci pakaian, tidak boleh memukul dengan apa pun, tidak boleh menenun, tidak boleh mengendurkan rambut kepala, tidak boleh memanggang hewan, dan tidak boleh untuk duduk dengan kaki terentang (Pemali) larangan ini disebut MUSU. Api tidak boleh padam di rumah seseorang pemburu, alas tidur harus digulung terlebih dahulu pada pagi hari agar tidak ada yang menginjaknya. Tidak seorang pun diperbolehkan duduk di Paladan (teras rumah) atau didepan pintu rumah, tidak ada satupun isi dari rumah yang boleh diberikan kepada orang lain, bahkan api pun tidak boleh. Jika salah satu peraturan ini dilanggar, para pemburu akan menderita. Untuk mengetahui apakah salah satu dari mereka yang pergi itu terluka atau terbunuh, digunakan metode ramalan berikut: pecahan besar panci masak yang pecah dibakar, saat panci ini sudah cukup panas, sejumlah butir beras yang belum dicap diambil di sela-sela ujung jari. Saat butiran ini dijatuhkan ke pecahan, mereka berkata: ini untuk N.N. (menyebut nama sipemburu) Jika semua butir keluar dari pecahannya ketika pecah, ini bukti bahwa orang yang disebutkan namanya sehat. Kemudian percobaan diulangi dengan menyebutkan nama yang lain. Jika ada butiran yang tersisa di pecahan, orang yang namanya disebutkan akan terluka atau terbunuh namun hal ini jarang terjadi kepada pemburu.
Ketika pasukan kembali, kepala yang mereka bawa harus ditinggalkan di luar kampung, sebagian prajurit diutus masuk untuk menyampaikan kepada Tokoh dan masyarakat, dan masyarakat bersiap untuk menyambut kedatangan para pasukan Tumpu Lau, seekor anjing dan seekor babi disiapkan. Hewan-hewan ini kemudian disembelih untuk disajikan dan dimakan. Setelah itu potongan kepala manusia dibawa ke dalam kampung dan diletakkan di Laso Batu. Ini ditutupi dengan nasi juga bersentuhan dengan kepala, kemudian kepalanya digantung di sebuah rumah kecil yang didirikan di dekat Laso Batu. Para pemburu menerima upah dua ekor
kerbau yang satu diperuntukkan bagi pemimpin dan satu lagi diperuntukkan bagi pengikutnya.
Dan saat itu juga dilakukan acara Ma'belo, Laso batu dihias dengan daun jagung muda, sebuah drum gendang digantung di sana, yang ditabuh pada waktu yang berbeda dalam sehari. Pada saat itu sejumlah besar orang bersukacita dengan hewan yang akan disembelih. Di kampung Lena setiap keluarga menyumbangkan seekor kerbau, tiga ekor babi, dan seekor anjing untuk pesta ini.
Kepala manusia digantung di gubuk kecil sampai kering, setelah itu disimpan di Alang Pare (lumbung padi). Kulit kepala yang sebelumnya sudah dikupas, ditaburi jeruk nipis lalu dikeringkan, kemudian dipotong-potong menjadi kecil dan dibagi ke masyarakat, potongan kulit kepala manusia juga disimpan di dalam tas sirihnya. Potongan lainnya ditempelkan pada enam helai daun Arenga muda (disebut balaba), dan diikatkan pada tiang bambu, kemudian diikatkan pada ujung punggung bukit, sedemikian rupa hingga potongan kulit kepala berada di luar atap di tempat terbuka. Semua itu dianggap bermanfaat: (agar tidak sakit dan memungkinkan tanaman tumbuh subur).
Ma'belo yang berlangsung selama tiga hari. Tarian dengan nyanyian yang disebut Sumengo, dibawakan di rumah adat (Banua Katongkoan) dan diulang-ulang di rumah bersamaan. Ada juga tarian di halaman dekat Laso Batu dan sekitarnya dihias dengan daun Arenga muda. Saat pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi memperbolehkan perburuan kepala manusia, upacara adat dilakukan dengan kepala yang sudah ada sebelumnya.